PENDIDIKAN PERDAMAIAN DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA

Pendahuluan: Pendidikan Agama dalam Kemajemukan Bangsa

Indonesia adalah Negara bangsa yang majemuk, ada lebih dari 300 suku bangsa dengan bahasa, budaya, dan ciri khas yang sangat berbeda satu sama lain. Indonesia juga diperkaya dengan agama-agama yang begitu banyak, ada enam agama yang diakui secara resmi dan banyak agama-agama lokal pada setiap suku dan daerah. Kondisi yang majemuk ini membuat Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara lainnya. Kondisi ini sebenarnya bisa menjadi suatu keuntungan untuk membangun bangsa ini, namun kondisi yang sangat majemuk ini juga sangat rentan akan konflik.

Pendidikan menjadi salah satu indikator penentu kualitas anak bangsa Indonesia. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajar anak untuk tahu atau sekedar mencetak kualitas pekerja, namun lebih mendidik anak yang berkarakter. Pendidikan Indonesia juga harus bisa di kontekstualkan agar sesuai dengan kondisi bangsa yang sangat plural ini. Karena ketika siswa hanya dididik untuk tahu tentang ilmu tanpa pemahaman aplikasi ilmu dalam masyarakat plural dampak membuat siswa tersebut terjebak dalam fanatisme ilmu, suku, agama dan lainnya.

Konflik yang sering terjadi di Indonesia sebagai Negara bangsa yang sangat majemuk adalah konflik berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). oleh karena itu, pendidikan di Indonesia seharusnya dapat menjadi sarana untuk memutuskan lingkaran konflik SARA dari lingkungan siswa sejak dini. Salah satu pelajaran yang bisa dikatakan bertanggungjawab besar dalam konteks ini adalah pendidikan agama. Pendidikan agama diharapkan mampu membangun sendi-sendi kebangsaan Negara yang berasaskan Pancasila ini. Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pertama dalam Pancasila yang harusnya menjadi dasar pembentukan Negara bangsa Indonesia ini. Oleh karena itu, tidak heran jika pendidikan agama yang baik dan kontekstual akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam kemajuan Negara bangsa ini.

Pendidikan agama merupakan sebuah proses tranformasi ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan siswa yang masih dalam kondisi mencari jati diri. Dalam konteks sosial-hostoris Indonesia, nilai keberagamaan yang penting untuk dikembangkan melalui pendidikan agama adalah nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Nilai-nilai toleransi akan dapat menjadikan kalangan remaja memiliki pemahaman dan perilaku religius yang berjalan paralel dengan kemampuan mereka untuk dapat hidup bersama orang lain yang berbeda etnik, budaya dan agama (to live together). Kemajemukan (pluralism) bangsa Indonesia juga harus menjadi pedoman dalam membingkai sebuah kehidupan yang mengedepankan semangat persahabatan dan persaudaraan demi tegaknya nilai-nilai demokrasi dan kebangsaan.[1]

Pendidikan agama memang memegang peranan penting yang akan menentukan sikap anak didik yang lebih dapat menghargai perbedaan dan berteman dengan bebas tanpa sekat atau sebaliknya akan menciptakan manusia-manusia yang memiliki fanatisme berlebihan yang melihat semua hal dengan satu cara pandang yang ekstrim yakni kebenaran yang mutlak dalam satu keyakinan tertentu. Kondisi pendidikan agama secara umum memang belum dapat menjadi contoh untuk pembentukan karakter yang pluralis namun juga tidak dapat dikatakan mengarahkan kepada sikap yang ektrimis. Walaupun memang kita tidak dapat menutup mata bahwa masih ada (banyak) para pendidik (guru ataupun tokoh agama) yang secara sadar atau tidak justru menanamkan bibit-bibit kebencian dalam diri anak didik.[2]

Sikap intoleran itu sering kali terdengar lebih nyaring dari kelompok agama Islam dan Kristen.[3] Sebenarnya, untuk kalangan siswa muslim pemahaman tentang kesadaran nilai-nilai pluralisme menjadi sangat penting untuk menumbuhkan sikap keberagaman yang lebih toleran dan memiliki sikap altruis terhadap segala perbedaan dalam lapisan masyarakat. Karena tidak dapat dipungkiri peranan Islam, sebagai agama yang terbesar kuantitasnya di Indonesia, sangat memegang peran yang besar dalam kemajuan Negara bangsa ini. Jika pendidikan agama islam gagal menumbuhkan sikap toleran dalam karakter anak didik bisa dipastikan beberapa tahun kedepan kondisi bangsa ini justru akan semakin parah.

Begitu pula hal dengan pendidikan agama Kristen seharusnya merefleksikan apa yang menjadi ajaran Yesus tentang nilai-nilai persahabatan dan kesalehan sosial bagi sesama. Dalam ajaran sosial Gereja, kebiasaan menjalin persahabatan dengan sesama, tanggung jawab secara etis,[4] tidak boleh sampai terbenam ditelan nafsu kekuasaan, dan sebisa mungkin menjauhkan prasangka menjadi sikap terbuka terhadap agama ataupun orang ”yang lain” (the other). Dalam konteks ini peran pendidikan agama Kristen memegang peran yang sangat penting untuk menimbulkan sikap kepedulian akan sekitar bukan justru terjebak dalam sindrom minoritas. Karena ketika terjebak dalam sindrom minoritas ini, usaha yang akan dilakukan seberapa baik atau besarpun hanya akan dalam rangka pembuktian diri yang identik dengan keegoisan dan sikap balas dendam semu.

Pentingnya peran pendidikan agama yang ini sangatlah vital dalam membangun karakter Negara bangsa kita yang majemuk ini. Meminjam bahasa Amin Abdullah bahwa pendidikan agama ini sebenarnya haruslah dipikirkan dengan baik layaknya ‘mobil kebakaran’ yang perlu diisi dan disiapkan dengan baik setiap saat walaupun belum terjadi kebakaran. Sehingga saat terjadi kebakaran mobil kebakaran tersebut telah siap sedia memerikan bantuan pemadaman api.[5]

Maka, paradigma pendidikan agama yang masih terbatas pada to know, to do dan to be, harus diarahkan kepada to live together.[6] Artinya, bahwa kemampuan anak didik untuk dapat hidup bersama orang lain yang berbeda etnis, budaya dan terutama agama, semestinya menjadi nilai yang melekat dalam tujuan sekolah dan lembaga agama yang melaksanakan aktifitas keagamaan yang berkaitan dengan sikap toleran atau nilai-nilai pluralisme. Tujuan pendidikan agama adalah untuk menjadikan anak didik memiliki pemahaman dan perilaku religius yang berjalan paralel dengan kemampuan mereka untuk dapat hidup bersama orang lain yang berbeda etnik, budaya dan agama.

 

Pendidikan Agama yang mengedepankan Perdamaian

Kecenderungan pendidikan agama dalam lingkungan sekolah hanya menekankan pada aspek pengukuran nilai watak yang terbingkai dalam pikiran dan otak setiap anak didik, sementara aspek batiniah yang mencakup kepekaan terhadap lingkungan, sikap empati, dan kepedulian sosial kurang diperhatikan. Akibatknya, nilai-nilai religi yang diajarkan ditempatkan di luar pribadinya, tidak terjamah, dan tidak terpersonifikasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Kecenderungan lain dari pelaksanaan pengajaran pendidikan agama adalah bahwa seorang anak dianggap telah berhasil mengikuti pendidikan agama bilamana telah menguasai sejumlah bahan pelajaran dan mampu menjawab soal-soal jawaban, bukan atas dasar sejauhmana anak telah menghayati nilai keagamaan yang terlefleksi dalam sikap dan menjelma para perilaku kehidupan, seperti disiplin dalam beribadah, berkepribadian luhur, sopan santun, saling menghormati dan menghargai, suka menolang, jujur, sabar, dan tidak apatis terhadap keyakinan agama lain.[7]

Menurut Amin Abdullah sikap intoleran juga dipicu oleh pelajaran agama yang lebih menitikberatkan pada pendekatan normatif yang berdimensikan ‘salah atau benar’ semata-mata, bahkan pada dimensi eksoteris yang bersifat historis dan sosiologis sehingga menimbulkan ketegangan, baik secara internal maupun hubungan antar agama. Pendekatan semacam ini bahkan masih dominan digunakan sampai tingkat perguruan tinggi yang seharusnya lebih menekankan pendekatan historis dan sosial empiris-kritis sehingga agama dapat memberikan perangkat problem solving dan bukan justru menjadi part of the problem dalam konteks kemajemukan dan keberagamaan di Indonesia.[8]

Pendidikan agama diharapkan menjadi wahana strategis untuk membentuk manusia berwawasan intelektual, bermoral, prestatif, dan berkepribadian luhur, sehingga pendidikan di masa depan merupakan momentum dalam membangun dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi kekuatan iman dan taqwa. Manusia dengan fungsinya sebagai mahluk sosial harus mampu mengembangkan nilai-nilai insani yang islami dalam kehidupan masyarakatnya. Nilai-nilai itu meliputi persaudaraan (ukhuwah islamiyah), perdamaian (islah), kasih sayang (rahmat), kebaikan (ihsan), toleransi (tasamuh), dan pema’af (afwan).[9]

Ketika nilai-nilai persaudaraan dan sikap live together ditanamkan dalam pendidikan agama di sekolah-sekolah dan instansi/lembaga keagamaan maka proses pemahaman makna pentingnya perdamaian akan secara langsung dapat diserap oleh anak didik. Perdamaian berasal dari bahasa inggris yakni peace, yang artinya damai, rukun, tentram dalam jiwa maupun batin.[10] Perdamaian berarti merasakan harmoni dan tiadanya permusuhan antar sesama yang mengambarkan hubungan antar kelompok yang berbeda (suku, bangsa, ras dan agama ataupun kelompok) dengan tetap menjungjung tinggi sikap saling menghormati, keadilan dan saling mendukung dan membangun bersama.

Perdamaian adalah hak mutlak yang diinginkan oleh setiap mahkluk hidup, Wahiduddin Khan menyatakan bahwa perdamaian selalu menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia, apabila perdamaian itu terwujud maka ia akan hidup dan sebaliknya apabila perdamaian itu absen maka matilah manusia itu.[11] Oleh karena itu terlihat jelas bahwa begitu pentingnyalah perdamaian itu bagi setiap individu teristimewa dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia.

Pendidikan agama di Indonesia sangat diharapkan dapat menjadi sarana yang sangat efektif dalam mendidik anak bangsa tentang pentingnya perdamaian. Ketika nilai-nilai perdamaian ini diajarkan dalam pendidikan agama sejak usia dini maka anggapan agama sebagai sebagai part of the conflict niscaya akan berganti menjadi sebagai problem solving. Pengajaran perdamaian dalam pendidikan agama tentulah tidak bertentangan dengan teks dan doktrin teologis agama tersebut, bukankah semua agama menyatakan dirinya sebagai pembawa damai. Islam secara tegas menyatakan dirinya sebagai rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh umat manusia dan seluruh alam). Yesus dalam Injil juga menegaskan pentingnya perdamaian ini, dengan tegas Ia mengatakan bahwa berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.[12] Bahkan dua ungkapan pembuka yakni kata salam yang berasal dari bahasa Arab dan shalom yang berasal dari bahasa Ibrani sama-sama berarti peace (damai).

 

Pendidikan Perdamaian sebagai ‘Mobil Kebakaran’

Tentu kita mengetahui bahwa petugas pemadam kebakaran akan selalu mempersiapkan kondisi mobil kebakaran yang baik setiap saat. Air dalam kondisi penuh, kondisi dan mesin mobil yang baik, bahan bakar mobil yang cukup dan peralatan yang lainnya selalu dicek setiap saat. Tidak ketinggalan juga kondisi petugas yang fit untuk melakukan tugas beratnya selalu menjadi prioritas. Dengan persiapan matang ini pemadam kebakaran dan mobil kebakarannya siap untuk melakukan tugas kapanpun terjadi kebakaran.

Sesuai ilustrasi pemadam kebakaran dan mobil kebakarannya, demikian jugalah Indonesia sebagai negara bangsa yang sangat majemuk dan rawan konflik memerlukan sebuah persiapan yang dapat digunakan sewaktu-waktu jika terjadi konflik. Diperlukan semacam ‘mobil kebakaran’ yang dengan sendirinya memberikan solusi (problem solving) ketika muncul suasana intoleran/konflik sehingga dapat diselesaikan dan terutama tidak berakhir dengan kekerasan baik fisik maupun fisikis. Menurut saya pendidikan agama yang mengedepankan pendidikan perdamaian sejak usia dini di Indonesia dapat menjadi salah satu alternatif ‘mobil kebakaran’ untuk konflik yang terjadi.

Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh hans kung yang menyatakan bahwa tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama, dan tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama.[13] Agama menjadi bagian yang sangat tidak terpisahkan dari perdamaian, sehingga pendidikan agama menjadi salah satu elemen penting terciptanya pendidikan perdamaian yang sesuai dengan negara bangsa Indonesia yang majemuk ini. Oleh karena itu, sangat diperlukan suatu kurikulum dan modul pendidikan agama yang mengarahkan kepada perdamaian.

Sebelum membahas cara untuk mengaplikasikan pendidikan perdamaian ini, sangat perlu memahami bahwa pendidikan perdamaian dalam pendidikan agama haruslah diberikan atau diajarkan kepada anak-anak didik sejak usia dini. Usia anak sekolah dasar adalah usia yang sangat potensial dalam pembentukan karakter mereka. Ketika nilai-nilai perdamaian ini disampaikan dengan baik pada usia dini ini, maka ini akan menjadi modal yang kuat bagi bangsa Indonesia dalam kemajemukannya. Jika saja pendidikan perdamaian ini diwujudkan tahun ini, maka niscayalah 20-30 tahun ke depan bangsa ini akan memiliki anak-anak bangsa yang berkarakter baik dan menjadi agen-agen perdamaian. Hal inilah yang saya maksudkan dengan anak bangsa yang mengecap pendidikan perdamaian yang akan menjadi ‘mobil-mobil kebakaran’ yang akan siap memadamkan panasnya konflik yang mungkin terjadi dalam kemajemukan bangsa kita.

Mewujudkan Pendidikan Perdamaian

Amin Abdullah menyatakan bahwa untuk memperbaiki social relation dan social fact yang relatif mengarah kepada prejudice, diskriminatif dan pengelompokan yang memarjinalkan, perlu dipikirkan sebuah cara dalam pendidikan sosial maupun pendidikan agama yang mengandung sikap rekonsiliatif, mediatif, konsensus, akomodatif, dan negosiatif. [14] Kelima sikap inilah yang menurut saya akan terwujud ketika pendidikan agama mengandung niali-nilai perdamaian. Karena di dalam nilai-nilai perdamain haruslah ada rekonsiliasi, rekonsiliasi memerlukan adanya mediasi yang menghasilakan persetujuan bersama yang dapat mengakomodasi setiap kelompok yang berbeda dan dalam rekonsiliasi dipastikan harus melewati negoisasi dan dialog. Ketika kelima hal ini bisa terwujud dalam pendidikan agama dan pendidikan perdamaian nicaya perubahan akan terjadi.

Harapan yang besar melalui pendidikan agama yang mengandung pendidikan perdamaian ini hanya akan menjadi teori dan harapan belaka jikalau semua aspek masyarakat indonesia tidak berjuang untuk melaksanakan. Ini adalah mimpi dan harapan yang jauh kedepan dan harus dimulai saat ini dengan segala kesulitan yang ada. Tidak dapat dipungkiri beberapa golongan masih beranggapan bahwa penafsiran tekstual terhadap teks kitab suci menjadi satu-satunya cara untuk perubahan dan cenderung memimpikan sejarah ribuan tahun lalu yang diklaim menjadi sejarah kejayaan agama akan kembali terwujud dengan menerapkan semua hal berbasis ajaran agama yang kaku.

Terlepas dari semua itu, optimisme akan harapan ini masih terus dirasakan oleh banyak orang yang dengan sadar memperjuangkan perdamaian baik di Indonesia maupun di dunia. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dengan baik agar harapan ini dapat terwujud. Rasa optimisme dan kemauan untuk melakukan harus kita tanamakan dalam diri kita (sebagai aktivis perdamaian, guru, pemuka agama, akademisi) dan kesadaran bahwa usaha ini adalah on going process yang kita harus lakukan karena kita bukan Tuhan pencipta yang dapat melakukan dengan sekejap (kun fa ya kun).

Beberapa hal yang menjadi cara dan elemen perubahan ini adalah:

  1. Kurikulum/modul pendidikan agama yang kontekstual

Kurikulum pendidikan agama yang kontekstual sangatlah diperlukan dalam mewujudkan perdamaian ini. Pendidikan agama memang harus diawali dengan pemahaman tentang dasar keimanan dalam agama tersebut namun harus diiringi dengan pengenalan the others agar anak didik dapat memahami bahwa nilai-nilai agama ini harusnya diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, pengenalan the others itu sangatlah penting.

Kurikulum pendidikan agama yang tidak hanya mengajarkan agama secara tekstual haruslah dipikirkan dengan baik agar tidak terjebak dalam karakter fanatisme berlebihan. Pendidikan agama, menurut hemat saya haruslah sesegera mungkin mengajarkan tentang perdamaian dan pengenalan the others. Kurikulum pendidikan agama harusnya dapat dikoneksikan kepada ilmu-ilmu yang lainnya. Menarik untuk di perhatikan juga perubahan IAIN menjadi UIN juga sebenarnya dalam rangka interkoneksi ilmu agama ini.[15] Walaupun tidak bisa dipungkiri sudah lamanya studi agama terpisah dari ilmu yang lain membuat wacana UIN ini mengalami banyak tentangan dari beberapa pemuka agama dan akademisi dibeberapa tempat.

Selain kurikulum yang baik diperlukan buku atau modul yang mendidik siswa akan pentingnya perdamaian itu perlu dipikirkan pihak terkait. Gagasan tentang ini bukan lagi dalam tataran wacana, beberapa lembaga LSM/NGO sudah memberikan kontribusi positif dalam pendidikan perdamaian ini. Salah satunya adalah NGO Peace Generation yang telah mengeluarkan modul training perdamaian kepada guru-guru dan aktivis perdamaian serta mahasiswa agar dapat diterapkan kepada anak didik di sekolah maupun di lembaga keagamaan. Buku modul ini diberinama 12 Nilai Perdamian yang di dalamnya ada 12 bab dan setiap bab mengandung satu nilai yang diajrkan secara beruntun.[16]

Ketika mendapatkan training 12 Nilai Perdamaian ini secara pribadi saya melihat modul ini bisa dipakai sebagai salah satu cara untuk mengajarkan perdamaian karena di dalam buku ini juga sarat dengan pendidikan agama. Saat ini memang mereka baru mempunyai 2 buku yakni buku edisi muslim dan buku edisi kristen. Menurut Erik (salah satu penulis buku) modul muslim dan kristen dibedakan agar dapat diterima dimasing-masing kelompok daripada menyatukannya relatif akan menimbulkan konflik.

Modul ini dikemas dengan banyaknya cerita yang berupa komik dan perminan/games. Setiap bab juga diawali dengan kata hikmah dari ayat kitab suci dan diakhiri dengan berdoa dan kata-kata bijak. 12 nilai yang dimaksud adalah (1) menerima diri, (2) mengatasi prasangka, (3) Perbedaan Etnis, (4) Perbedaan Agama, (5) Perbedaan Jenis Kelamin, (6) Perbedaan status ekonomi, (7) perbedaan kelompok atau geng, (8) keanekaragaman, (9) konflik, (10) menolak kekerasan, (11) mengakui kesalahan, dan (12) memberi maaf. Menurut saya, modul ini baik untuk diadopsi di Indonesia karena sudah mencakup kemajemukan di Indonesia dan dikaitkan dengan kepercayaan yang ada di Indonesia.

 

  1. Kualitas Pengajar (guru dan tokoh agama)

Kualitas pengajar pendidikan agama bukan hanya pengetahuan teks agama yang baik, namun meliputi karakter yang dapat menjadi teladan atau yang patut untuk ditiru sikapnya oleh anak didik. Oleh karena itu, pendidikan agama haruslah diajar oleh guru maupun tokoh agama yang karkaternya juga mewujudkan perdamaian. Hal ini sangat berkaitan dengan budaya bangsa kita yang menempatkan orang dewasa (orang tua) sebagai orang yang menjadi panutan pertama. Maka tak heran jika dikatakan bahwa kualitas murid akan terlihat dengan kualitas gurunya. Anak usia dini dalam hal ini sangat cepat untuk meniru perkataan, sikap atau karakter orang dewasa disekitar mereka.

Pelatihan-pelatihan kepada guru dan pemuka agama yang lebih kepada aspek sosial yang memapukan mereka mendidik anak didik yang mampu menerapkan nilai-nilai perdamaian sangatlah diperlukan. Pelatihan seperti training 12 nilai dasar perdamaian yang diadakan Peace Generation dan pelatihan yang sama dari lembaga yang lain perlu difasilitasi pemerintah dan khususnya depertemen pendidikan dan depertemn agama. Semakin banyak pengajar yang terampil dan memiliki nilai-nilai perdamaian dalam dirinya akan semakin sukseslah pendidikan perdamaian ini.

 

  1. Suasana lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga

Suasana kekeluargaan dalam lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga memegang peran yang sangat penting. Lingkungan ini adalah tempat anak didik dapat mengaplikasikan semua hal yang diterimanya. Saat suasana lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga ini sangat berbeda dari suasana ideal yang dipelajarinya bisa jadi akan menimbulkan sikap apatis dalam diri anak didik. Oleh karena itu orang tua dan guru perlu memiliki kesamaan presepsi dalam medidik anak. Orang tua memegang peranan penting untuk menciptakan suasana lingkungan yang baik pada anak. Lingkungan yang lebih majemuk juga dapat memberikan ruang belajar yang lebih baik bagi seorang anak. Intinya jangan pernah takut kalau anak kita berteman dan beraktivitas dengan teman-temannya yang berbeda suku, ras dan agama. Karena dalam suasana seperti inilah mereka akan mengaplikasikan sendiri nilai-nilai perdamaian tersebut.

 

Penutup

Mewujudkan pendidikan perdamaian dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia bukanlah menjadi hal yang mudah, namun walaupun demikian hal ini masihlah menjadi keniscayaan untuk terjadi. Ketika anak-anak bangsa kita memiliki kapasitas untuk bernegoisasi, berekonsiliasi, memilki kapasitas untuk sebagai mediator, mampu berkonsensus dengan baik dan memiliki rasa akomodatif yang baik maka nilai-nilai perdamaian ini akan sendirinya menggiring mereka kepada pengenalan diri sendiri yang lebih baik dan juga penghargaan dan pemberian apresiasi akan kehadiran orang lain yang berbeda secara agama, ras dan suku di sekitarnya.

Keterlibatan dan kesadaran semua pihak (pemerintah, pendidik, aktivis agma dan sosial, akademisi, dan masyarakat serta orang tua) akan pentingnya pendidikan perdamaian yang diberikan sejak usia sini kepada anak-anak bangsa ini menjadi kunci pokok. Perdamaian itu tidak akan terwujud jika bibit-bibit kebencian historis dan prasangka-prasangka terhadap golongan tertentu tidak diputus dari sejak usia dini. Besar harapan kita bersama melalui proses pendidikan perdamaian dalam pendidikan agama ini bisa terwujud dan kedepan kita akan menuai hasil yakni menghasilkan generasi-generasi yang penuh kedamaian dan saling mengenal serta menghargai ditengah-tegah perdedaan dan kemajemukan bangsa. Niscaya hal ini bisa menjadi ‘mobil kebakaran’ yang akan beroperasi/bergerak dengan sendirinya ketika ada konflik yang mengarah kepada kekerasan fisik maupun fisikis.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, “Agama dan (Dis) Integrasi Sosial: Tinjauan Materi dan Metodologi Pembelajaran Agama (Kalam dan Teologi) dalam Era Kemajemukan di Indonesia”, Makalah disampaikan dalam seminar “Panitia Ad Hoc BPMPR RI tentang Perubahan Kedua UUD 1945 dalam Perspektif Hukum, Sub Topik Agama dan Budaya, Mataram, 22 s/d 23 Maret 2003

_____________, Agama dan Pembentukan Kepribadian Bangda di Indonesia, 2010.

_____________, Integrated Prespectives dalam studi Agama: Aplikasi Teoritis dalam Studi Islam di UIN, ditulis saat masih menjabat sebagai rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Buseri, Kamrani, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah: Pemikiran Teoritis Praktis Kontemporer, Yogyakarta: UII Press, 2003

Echols, Jhon M, dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 1996

Kung, Hans, Tak Ada Perdamaian Dunia Tanpa Perdamaian Agama-agama, dalam Jalan Dialog Hans Kung dan Presfektif Muslim, Yogyakarta: Public Lecture Hans Kung CRCS UGM, 2010

Lincoln, Erik dan Irfan Amalee, Peace Generation: 12 Nilai Perdamaian, Bandung: Penerbit Pelagi Mizan, 2006

Lincoln, Erik dan Florence Farida, Peace Generation: 12 Nilai Perdamaian, edisi Kristen, Bandung: Penerbit satu-satu, 2011

Munir Mulkhan, Abdul, Paradigma Intelektual Muslim; Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah, Yogyakarta: Sippress, 1993

Takdir Ilahi, Mohammad, Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa: Paradigma Pembangunan dan Kemandirian Bangsa, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012

Tarigan, Jacobus, Religiositas, Agama, dan Gereja Katolik, Jakarta: Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia, 2007

Wahiduddin Khan, Maulana, The Ideology of Peace, New Delhi: Goodword Book, 2010

 

Sumber lain:

  1. Beberapa istilah dan kutipan disadur dari perkuliahan selama satu semester dalam mata kuliah filsafat agama dan resolusi konflik bersama Prof. Dr. Amin Abdullah
  2. Ayat kitab suci Alkitab disadur dari Alkitab terjemahan baru terbitan LAI tahun 1974

 

Foot Note:

[1] Mohammad Takdir Ilahi, Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa: Paradigma Pembangunan dan Kemandirian Bangsa, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 33.

[2] Setidaknya hal ini dialami sendiri oleh penulis yang beberapa tahun ini lebih terlibat dalam komunitas lintas agama. Di beberapa daerah (secara khusus sumatera utara daerah asal penulis), sering kali anak-anak kecil usia sd dan smp mengeluarkan kata-kata najis dan kafir kepada temannya yang berbeda suku dan terutama yang berbeda agama. Ketika beberapa remaja ini penulis tanyai secara pribadi ternyata bibit-bibit permusuhan ini justru ditanamkan dari rumah, sekolah ataupun aktivitas agama yang diikuti.

[3] Penulis memfokuskan uraian kepada Islam dan Kristen bukan mengabaikan agama lain, namun setidaknya representasi perdebatan dan konflik biasanya lahir dari dua agama ini dan juga keterbatasan penulis mendalami agama yang lainnya.

[4] Jacobus Tarigan, Religiositas, Agama, dan Gereja Katolik, (Jakarta: Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia, 2007), hlm. 109.

[5] Istilah ini penulis dapatkan dari perkuliahan filsafat agama dan resolusi konflik dari dosen pengampu yakni Prof. Dr. Amin Abdullah.

[6] M. Amin Abdullah, “Agama dan (Dis) Integrasi Sosial: Tinjauan Materi dan Metodologi Pembelajaran Agama (Kalam dan Teologi) dalam Era Kemajemukan di Indonesia”, Makalah disampaikan dalam seminar “Panitia Ad Hoc BPMPR RI tentang Perubahan Kedua UUD 1945 dalam Perspektif Hukum, Sub Topik Agama dan Budaya, Mataram, 22 s/d 23 Maret 2003, hlm. 9.

[7] Kamrani Buseri, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah: Pemikiran Teoritis Praktis Kontemporer, (Yogyakarta: UII Press, 2003), hlm. 27.

[8] Amin Abdullah, Agama dan Pembentukan Kepribadian Bangda di Indonesia, 2010.

[9] Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim; Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah, (Yogyakarta: Sippress, 1993), hlm. 30

[10] Jhon M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 1996), hlm.422

[11] Maulana Wahiduddin Khan, The Ideology of Peace, (New Delhi: Goodword Book, 2010), hlm.12

[12] Ayat ini dtulis dalam surat Injil Matius 5:9, secara khusus ayat ini adalah rangkaian sebuah pengajaran yang Yesus utarakan kepada umat saat itu yang sering dikenal dengan Kotbah di Bukit. Yesus memberikan sebuah perkataan yang sangat tegas bahwa orang yang membawa kedamaian diseklilingnya adalah anak-anak (sebutan untuk hubungan yang sangat dekat) Allah.

[13] Hans Kung, Tak Ada Perdamaian Dunia Tanpa Perdamaian Agama-agama, dalam Jalan Dialog Hans Kung dan Presfektif Muslim, (Yogyakarta: Public Lecture Hans Kung CRCS UGM, 2010), hlm. 25

[14] Dalam perkuliahan terakhir di konsentrasi SARK UIN suka, 31 desember 2012

[15] Amin Abdullah, Integrated Prespectives dalam studi Agama: Aplikasi Teoritis dalam Studi Islam di UIN, ditulis oleh beliau saat masih menjabat sebagai rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[16] Erik Lincoln dan Irfan Amalee, Peace Generation: 12 Nilai Perdamaian, (Bandung: Penerbit Pelagi Mizan, 2006) dan Erik Lincoln dan Florence Farida, Peace Generation: 12 Nilai Perdamaian, edisi Kristen, (Bandung: Penerbit satu-satu, 2011)