Student Interfaith Peace Camp

img-20160825-wa0002

Student Interfaith Peace Camp (SIPC) kembali hadir untuk memfasilitasi mahasiswa-masiswa S1/D3 di Indonesia untuk mengenal dan belajar bersama tentang Pendidikan Perdamaian dan Dialog lintas Iman. Diselenggarakan di beberapa regional seperti Medan, Jakarta, Bandung, Jawa Tengah (Solo/Semarang/Saltiga), Yogyakarta, Jawa Timur (Surabaya/Malang/Madura) pada 11-13 & 18-20 November 2016.

info dan pendaftaran: http://yipci.org/pendaftaran-student-interfaith-peace-camp-sipc-november-2016/

Salam Damai

 

MENGELOLA KEANEKARAGAMAN INDONESIA: WACANA PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Pendahuluan: Keanekaragaman sebuah Berkah atau Bencana

Indonesia adalah sebuah negara bangsa yang dibangun dalam keanekaragaman yang sangat besar. Bayangkan saja negara Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki 13.466 pulau[1], selain itu negara ini memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa[2] dengan lebih dari 2.500 bahasa daerah (bahasa sehari-hari) yang digunakan oleh masyarakat[3]. Selain itu, keanekaragaman agama yang dianut masyarakat Indoensia juga turut memberikan warna tersendiri dalam kehidupan bangsa ini, secara resmi ada 6 agama yang dinyatakan ‘resmi’ dalam negara ini yakni: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu, Buddha, serta Konghucu. Tidak hanya itu, sejak sebelum masuknya agama-agama diatas, Indonesia (Nusantara) sudah memiliki agama (keyakinan) lokal dari hampir setiap suku, yang pada masa Orde Baru disebut sebagai Aliran Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keanekaragaman ini memberikan pembeda yang sangat jelas antara Indonesia dan negara-negara lainnya.

Keanekaragaman ini adalah berkah bagi bangsa Indonesia secara khusus menjadi kebanggaan tersendiri bagi penduduknya. Namun, keanekaragaman ini dapat saja menjadi ‘bumerang’ tersendiri karena jika tidak dapat di manajemen dengan baik dapat mengakibatkan konflik yang dapat merusak sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Konflik berdasarkan perbedaan SARA yang berujung kepada kekerasan fisik maupun psikis sudah sangat sering terjadi dalam bangsa ini. Bentrok yang berujung jatuhnya korban jiwa yang dilatar-belakangi perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan sudah menjadi kisah-kisah pilu dalam sejarah pra dan pasca kemerdekaan Indonesia. Dimulai dengan kisah-kisah perang antar kerajaan yang dibentuk oleh suku-suku, propoganda divide et impera (pecah belah lalu kuasai) yang diterapkan oleh kolonial Belanda pada masa penjajahan ternyata sangat efektif untuk memporak-porandakan dan menguasai nusantara yang sangat besar ini, negara sekecil Belanda dapat menguasai dan menjajah Nusantara yang sangat luas.

Masuknya penjajahan Belanda dengan misi ‘3G (Gold, Glory, Gospel)’nya turut memberikan nuansa konflik tersendiri. Kristen sampai saat ini (tentunya oleh beberapa kalangan) masih dianggap sebagai agama ‘warisan penjajah’. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena penyebaran agama Kristen di Indonesia di beberapa tempat di tanah air bersamaan dengan masuknya penjajahan Belanda. Walaupun sebenarnya Belanda sebenarnya tidak memberikan keleluasaan bagi para misionaris Kristen dengan melakukan pola pendekatan ‘Kapling’, yakni pola yang membagi wilayah nusantara menjadi kapling-kapling kawasan aktivitas. Ada wilayah untuk aktivitas misi Katholik dan ada juga wilayah aktivitas misi Protestan serta ada daerah khusus kesultan (Islam) yang tidak dapat dimasuki para zending. Semua ini dibagi-bagi agar aktivitas penyebaran agama tidak mengganggu aktivitas eksplorasi alam dan penjajahan yang dilakukan bangsa kolonial (Belanda).[4] Hal ini yang menyebabkan biasanya penganut agama Kristen mayoritas dari suku-suku yang awalnya belum menganut agama Islam ataupun Buddha maupun Hindu, seperti Batak Toba, Toraja, Manado, Dayak, Ambon dan Papua.

Setelah kemerdekaan diproklamasikan, Pancasila dijadikan sebagai dasar negara yang dianggap mampu mempersatukan keanekaragaman yang ada di tanah air. Penentuan Pancasila sebagai dasar negara dan apa yang menjadi isinya merupakan rumusan para Founding Father bangsa ini. perdebatan isi dari sila pertama yang akhirnya disahkan sebagaimana yang kita kanal sampai saat ini sebagai ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ merupakan kesadaran penuh akan Keankeragaman (khususnya agama) yang dianut masyarakat Indonesia. Pancasila adalah titik temu yang lahir dari kesadaran bersama pada saat krisis, dan tentunya dapat diputuskan oleh karena kesadaran untuk berkorban[5] demi kepentingan yang lebih besar, yakni membentuk bangsa yang besar.[6] Pancasila ini juga diperkuat dengan semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang berarti berbeda-beda tetapi satu jua. Semboyan ini memberikan semangat yang besar bagi bangsa ini karena dengan kesadaran penuh seharusnya seluruh elemen bangsa ini menyadari bahwa bangsa ini dibangun atas dasar kesadaran akan perbedaan-perbedaan yang dibungkus oleh semangat perjuangan sebagai bangsa yang merdeka.

Namun kesadaran akan pentingnya merawat persatuan dan kesatuan bangsa ini, masih terus menjadi pekerjaan yang belum tuntas seluruh elemen bangsa ini. dalam skala besar, keluarnya Nusa Tenggara Timur (saat ini menjadi negara Timor Leste) pada tahun 1999 dari NKRI, Gerakan-gerakan separatis yang melakukan usaha-usaha pemisahan daerah tertentu dari NKRI seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka), OPM (Operasi Papua Merdeka) masih menjadi tantangan perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Gerakan-gerakan separatis ini biasanya disandarkan akan perasaan termarjinalkan dan ketidakmerataan ekonomi dan perkembangan daerah. Selain itu maraknya tindakan teror oleh sekelompok penganut keagamaan yang mengatsnamakan tindakan mereka kepada ajaran agama seperti JI (jemaah Islamiyah), NII (Negara islam Indonesia) dan lainnya juga menjadi keresahan tersendiri. Uniknya serangan sekelompok kaum militan (kerap disebut sebagai tindakan terorisme) ini saat ini berubah dari awalnya melakukan serangan terhadap kepentingan asing (seperti kedutaan negara asing) dan rumah ibadah (dalam hal ini Gereja menjadi Rumah Ibadah yang menjadi sasaran), saat ini berbalik arah melakukan tindakan teror terhadap simbol keamanan negara yakni kepolisian. Apapun yang menjadi dalilnya, tindakan ini dapat dikatakan sebagai ancaman akan persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Keanekaragaman adalah berkah, namun disisi lain menjadi ‘bencana’ ketika keanekaragaman itu gagal dikelola dengan baik. Agar keanekaragaman ini dapat menjadi berkah warisan turun temurun, perlulah sebuah langkah yang dilakukan secara simultan dan terencana bukan hanya sekedar langkah penanggulangan yang hanya sekedar lakukan saat konflik sudah terjadi. Memang langkah-langkah pencegahan konflik kekerasan sebelum terjadi dan upayah resolusi konflik saat konflik sudah terjadi perlu terus dilakukan dalam waktu pendek saat ini. Namun, tidak cukup hanya langkah-langkah resolusi konflik saja, dalam jangkah menegah dan panjang perlu dilakukan sebuah terobosan penting untuk menanamkan nilai-nilai keanekaragaman dan keindahan keanekaragaman tersebut kepada elemen bangsa, mulai dari usia dini. Pendidikan adalah sarana yang sangat efektif untuk usaha ini.

Pendidikan sebagai Sarana Pemersatu

Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial adalah cita-cita perjuangan kemerdekaan Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Cita-cita bangsa ini adalah kerinduan yang mendalam dari para pejuang kemerdekaan dan kewajiban setiap warga negara yang saat ini mewarisinya. Sungguh cita-cita yang besar karena perlindungan tumpah darah Indonesia itu dapat terealisasi jika ada kesejahteraan, hidup yang cerdas dan kepedulian akan ketertiban (perdamaian) dunia. Salah satu langkah yang harus dilakukan dalam perwujudan cita-cita itu adalah melalui pendidikan.

Kehidupan bangsa yang cerdas tidak dapat diukur oleh kemampuan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada, namun cita-cita ini dapat terwujud saat anak-anak bangsa dengan sadar memahami akan indahnya keanekaragaman bangsa dan untuk itulah mereka mendapatkan pendidikan yang memberikan modal untuk berbuat bagi kesjahteraan umum, kembali dalam mencerdaskan bangsa serta ikut menjamin perdamaian dunia. Oleh karena itu, menurut penulis, pendidikan memegang peranan sentral.

Selain kepekaan akan kondisi bangsa sendiri, pendidikan juga harus menjawab tantangan kehidupan global. Sehingga pendidikan bukan hanya menyajikan materi-materi ilmu pengetahuan, namun hal yang terpenting adalah meningkatkan sensitifitas para peserta didik untuk kehidupan sekitarnya. Salah satu permasalahan yang harus dicarikan solusinya melalui pendidikan adalah mengatasi masalah-masalah keanekaragaman yang sudah menjadi kenyataan di negara ini. pendidikan melalui kurikulum dan perangkatnya diharapkan tidak hanya menghasilkan siswa yang menguasai ilmu namun yang terpenting adalah dapat menerapkan ilmu dalam kenyataan keanekaragaman Indonesia dan tantangan kehidupan global. Pendidikan bermakna sebagai usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi bawaan, baik jasmani maupun rohani, sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dan Ki Hadjar Dewantara mendefenisikan Pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti ( kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak.[7]

Namun pendidikan yang terlaksana di Indonesia sepertinya belum mampu mencerdasakan akan pentingnya merawat keanekaragaman sebagai kebanggaan bangsa. Masih banyak kasus yang terjadi di sekolah-sekolah yang sepertinya masih menularkan bibit-bibit dendam dan permusuhan yang termanifestasi dalam maraknya tauran-tauran antar sekolah. Selain itu, maraknya sikap-sikap intoleransi masih sering terjadi di sekolah-sekolah, baru-baru ini kasus terbaru seorang siswa muslimah disebuah SMA negeri di Bali justru dilarang menggunakan jilbab bahkan disuruh untuk pindah sekolah jika masih menggunakan jilbab.[8] Bahkan pengalaman istri penulis saat mengajar di Aceh sering mengalami kenyataan intoleran dari siswa bahkan yang masih usia TK dan SD. Sebagai seorang Kristen, dia sering mendengar kata-kata kafir dari siswanya, namun sebagai seorang pendidik dia harus mampu menjelaskan kepada siswanya dengan baik dan tetap mengasihi.[9]

Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia benar-benar harus dapat diformulasi untuk sejak dini memperkenalkan keanekaragaman dan menjadikannya sebagai kebanggaan bersama. Pelajaran akan menghargai perbedaan dalam kenaekaragaman mutlak sangat diperlukan. Salah satu wacana yang terus didegung-dengungkan sampai saat ini adalah tentang penerapan pendidikan multikultural di sekolah-sekolah yang ada sejak usia dini.

 

Pendidikan Multikultural

Secara etimologis, multikultural dibentuk dari kata multi (banyak) dan kultur (budaya). Sehingga dapat dinyatakan bahwa multikultural adalah kata lain dari kenyataan keanekaragaman tersebut. Kebudayaan merupakan sebuah frasa yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Kebudayaan merupakan sebuah sistem arti dan makna yang tercipta secara historis atau dalam sebuah sistem kepercayaan dan praktenya dimana satu kelompok manusia memahami, mengatur dan menstrukturkan kehidupan dan kolektif mereka.[10] Sehingga multikultural dapat mencakup kenekaragman suku, agama, budaya dan kearifan lokal karena disetiap kelompok tersebut ada sistem keyakinan yang dibentuk. Sehingga setiap kultur (suku, budaya, agama) pada prinsipnya membawa kelompok tersebut kepada suatu tujuan yang mulia dalam kehidupan bersama. Dengan kata lain setiap suku mempunyai kearifan lokal yang baik, namun mempunyai karakter penyampaian yang berbeda-beda. Setiap agama juga mempunyai ajaran yang mengajarkan penganutnya untuk berbuat baik bagi sesama dan alamnya, namun dengan doktrin yang berbeda-beda yang membedakannya.

Selanjutnya, menurut HAR Tilaar, bangsa yang tidak punya strategi untuk mengelola kebudayaan yang mendapat tantangan yang demikian dahsyatnya, dikhawatirkan akan mudah terbawa arus hingga akhirnya kehilangan jati diri lokal dan nasional. Pendidikan multikultural hendaknya dijadikan strategi dalam mengelola kebudayaan dengan menawarkan strategi transformasi budaya yang ampuh yakni melalui mekanisme pendidikan yang menghargai perbedaan budaya.[11] Pendidikan multikultural ini dapat diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah ataupun dalam pendidikan di luar sekolah, seperti pendidikan berbasis keagamaan.

Menurut Choirul Mahfud yang menjadi ciri-ciri dari pendidikan multikultural adalah: (1)membentuk ‘manusia budaya’ dan menciptakan ‘masyarakat berbudaya (berperadaban)’. (2)Materinya mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok ethnis (kultur). (3)Metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan keberagaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalis). (4)Evaluasinya ditentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi persepsi, apresiasi, dan tindakan budaya lainnya.[12] Upaya untuk membentuk ‘manusia budaya’ yang mememiliki nilai-nilai ke indonesiaan yakni memahami budayanya namun juga disaat bersamaan melihat budaya (kultur) lain sebagai suatu kekayaan yang harus dimengerti atau dipahami sebagai kebanggaan dalam kehidupan bersama, tentulah bukan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan mengingat keanekaragaman kultural yang sangat besar.

Menurut Bennett Ada empat nilai inti atau core values dari pendidikan multikultural, yaitu: a) apresiasi terhadap multikultural; b) pengakuan terhadap harkat manusia dan hak asasi manusia; c) pengembangan tanggung jawab masyarakat dunia; dan d) pengembangan tanggung jawab manusia terhadap planet bumi. Selanjutnya menurutnya ada enam tujuan pendidikan multikultural yang berkaitan dengan nilai-nilai inti tersebut, yaitu: pertama, mengembangkan perspektif sejarah (etnohistorisitas) yang beragam dari kelompok-kelompok masyarakat. Kedua, memperkuat kesadaran budaya yang hidup di masyarakat. Ketiga, memperkuat kompetensi interkultural dari budaya-budaya yang hidup di masyarakat. Keempat, membasmi rasisme, seksisme, dan berbagai jenis prasangka. Kelima, mengembangkan kesadaran atas kepemilikan planet bumi. Keenam, mengembangkan keterampilan aksi sosial.[13]

Memang harus diakui bahwa di Indonesia pendidikan multikultural ini masih dalam tahap wacana, kurikulum pendidikan yang diterapkan masih sebatas penerapan pendidikan karakter yang sampai saat ini juga masih diperdebatkan keefektifan pelaksanannnya. Namun menurut hemat penulis, pendidikan karakter dan pendidikan multikultural dapat dilaksanakan secara bersama-sama dalam satu paket. Pendidikan multikultural dapat diintegrasikan dalam beberapa mata pelajaran yang ada seperti pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan.

Secara khusus pendidikan agama seharusnya dapat dimodifikasi untuk dapat memperkenalkan multikultural yang ada. Kecenderungan pendidikan agama dalam lingkungan sekolah hanya menekankan pada aspek pengukuran nilai watak yang terbingkai dalam pikiran dan otak setiap anak didik, sementara aspek batiniah yang mencakup kepekaan terhadap lingkungan, sikap empati, dan kepedulian sosial kurang diperhatikan. Akibatknya, nilai-nilai religi yang diajarkan ditempatkan di luar pribadinya, tidak terjamah, dan tidak terpersonifikasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Kecenderungan lain dari pelaksanaan pengajaran pendidikan agama adalah bahwa seorang anak dianggap telah berhasil mengikuti pendidikan agama bilamana telah menguasai sejumlah bahan pelajaran dan mampu menjawab soal-soal jawaban, bukan atas dasar sejauhmana anak telah menghayati nilai keagamaan yang terlefleksi dalam sikap dan menjelma para perilaku kehidupan, seperti disiplin dalam beribadah, berkepribadian luhur, sopan santun, saling menghormati dan menghargai, suka menolang, jujur, sabar, dan tidak apatis terhadap keyakinan agama lain.[14]

Menurut Amin Abdullah sikap intoleran terhadap perbedaan juga dipicu oleh pelajaran agama yang lebih menitikberatkan pada pendekatan normatif yang berdimensikan ‘salah atau benar’ semata-mata, bahkan pada dimensi eksoteris yang bersifat historis dan sosiologis sehingga menimbulkan ketegangan, baik secara internal maupun hubungan antar agama. Pendekatan semacam ini bahkan masih dominan digunakan sampai tingkat perguruan tinggi yang seharusnya lebih menekankan pendekatan historis dan sosial empiris-kritis sehingga agama dapat memberikan perangkat problem solving dan bukan justru menjadi part of the problem dalam konteks kemajemukan dan keberagamaan di Indonesia.[15]

Oleh karena itu dalam pendidikan formal, pelajaran tentang multikultural ini sangat mungkin diselipkan dalam pelajaran agama dan kewarganegaraan, karena tidak memungkinkan dalam kurikulum saat ini untuk memberikan porsi khusus dalam pendidikan multikultural. Namun, pendidikan multikultural ini dapat dilaksanakan dalam pendidikan non-formal juga. Dalam pendidikan non-formal di masyarakat dapat dilakukan melalui lembaga-lembaga keagamaan yang ada dengan kegiatan-kegiatan seperti seminar, konfrensi ataupun pelatihan-pelatihan. Secara khusus di negara ini, ulama atau tokoh agama memegang peranan penting, bahkan di beberapa golongan perkataan seorang tokoh agama adalah sebuah nasihat yang wajib dilakukan. Oleh karena itu, ceramah/ kotbah/ fatwa dari seorang tokoh agama yang memahami akan keanekaragaman sangat mempengaruhi pola pemikiran umatnya. Oleh karena itu, untuk pendidikan multikultural non-formal dapat dilakukan pada dua sisi, yakni pertama di level tokoh agama dan kedua di level umat. Pada level umat dapat dibagi juga menjadi dua, yakni umat di akar rumput dan umat yang mengecap pendidikan (sebagai calon tokoh agama ataupun pemimpin masa depan).

Penutup: Sebuah Saran

Menciptakan suasana damai dalam masyarakat yang sangat multikultur melalui pendidikan multikultural memang memerlukan waktu dan konsistensi dari semua elemen bangsa ini. Oleh karena itu, dalam tantangan maraknya sikap intoleran yang sedang muncul dan berkembang dari beberapa kelompok harus disikapi sebagai bahan evaluasi untuk melakukan tindakan yang lebih cepat dan simultan untuk melakukan pendidikan perdamaian baik dalam pendidikan formal maupun pendidikan non-formal. Pengenalan akan ‘the other’ dan kenyataan akan multikultural tersebut haruslah menjadi sendi pendidikan saat ini, sehingga cita-cita perjuangan bangsa ini dapat tercapai atau setidaknya tidak seperti yang dikatakan oleh pepatah: ‘jauh panggang dari api’.

Konflik memang adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, namun konflik atas nama perbedaan dalam bingkai kehidupan yang multikultur dapat dimanajemen sehingga menghasilkan sikap saling mengerti ketika konflik yang ada berhasil didialogkan. Proses menuju harapan tentulah akan dapat tercapai ketika semua elemen bangsa ini menyadari akan realitas kenekaragam tersebut. Pendidikan Multikultural menjadi sebuah alternatif solusi untuk mengatsi permasalahan kenaekaragaman yang saat ini dialami oleh Indonesia. Setidaknya semua kita pasti memahami bahwa pendidikan di keluarga, sekolah, lembaga agama menjadi salah satu pemegang faktor penting penentu pola pikir individu/kelompok yang menjadi dasar seseorang untuk bertindak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, Agama dan Pembentukan Kepribadian Bangda di Indonesia, 2010.

Ali, As’ad Said ,Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa, cet.III, jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2010

Buseri, Kamrani, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah: Pemikiran Teoritis Praktis Kontemporer, (Yogyakarta: UII Press, 2003), hlm. 27.

Halim, Abdul, Dialog Antar Umat Beragama, Telaah atas Pemikiran H.A. Mukti Ali), Tesis. Pascasarjaan UIN Sunan Kalijaga. 2000

Mahfud, Choitul , Pendidikan Multikultural, cet.IV, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2013

Parek, Bikhu, terj.Impulse, Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan teori Politik, cet.V, Yogyakarta: Kanisius. 2012

Tilaar, H.A.R., Kekuasaan dan Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta. 2009

TIM Penyusun BPS, Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia: Menurut Sensus 2010, Jakarta: Badan Pusat Statistik

http://www.menkokesra.go.id/content/di-indonesia-ada-13-466-pulau-bukan-17508-pulau

http://www.timlo.net/baca/68719525587/pakai-jilbab-siswi-sma-di-bali-disuruh-lepas-atau-pindah-sekolah/

 

Footnote:

[1] Menurut data hasil survey dari tahun 2007 hingga 2010 oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi (Timnas PNR). Hasil survey tersebut telah dilaporkan ke United Nations Group of Expert on Geograpichal Names (UNGEGN). Selengkapnya lihat di http://www.menkokesra.go.id/content/di-indonesia-ada-13-466-pulau-bukan-17508-pulau

[2] TIM Penyusun BPS, Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia: Menurut Sensus 2010, Jakarta: Badan Pusat Statistik, hlm.5

[3] Ibid, hlm.6

[4] Abdul Halim, Dialog Antar Umat Beragama, Telaah atas Pemikiran H.A. Mukti Ali), Tesis. Pascasarjaan UIN Sunan Kalijaga. 2000, hlm. 4

[5] Dalam hal ini kita dapat melihat pengorbanan akan idiologi kelompok yang dilakukan para Founding Father yang beragama Islam yang legowo menghapuskan 7 kata dari sila pertama yang dirumuskan dalam piagam Jakarta.

[6] As’ad Said Ali, Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa, cet.III, jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2010, hlm.viii

[7] Choitul Mahfud, Pendidikan Multikultural, cet.IV, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2013, hlm.32

[8] http://www.timlo.net/baca/68719525587/pakai-jilbab-siswi-sma-di-bali-disuruh-lepas-atau-pindah-sekolah/

[9] Ini kisah nyata yang dialami istri penulis Sontiar Junita saat mengajar di Banda Aceh tahun 2010-2012. Kisah diatas adalah pengalaman yang membawa istri saya saat ini belajar untuk mewujudkan perdamaian dalam pendidikan usia dini. Saat ditanya, anak-anak tersebut mendapat doktrin dari keluarga, ustadz, guru-gurunya di sekolah sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa penghargaan akan perbedaan masih menjadi sesuatu yang mahal harganya.

[10] Bikhu Parek, terj.Impulse, Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan teori Politik, cet.V, Yogyakarta: Kanisius. 2012, hlm.196

[11] H.A.R. Tilaar. Kekuasaan dan Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta. 2009

[12] Choitul Mahfud, Pendidikan Multikultural, cet.IV, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2013, hlm.187

[13] Christine I. Bennett, profesor pada Indiana University at Bloomington yang menulis buku berjudul: ‘Comprehensive Multicultural Education Theory and Practice, Dikutip dari H.A.R. Tilaar. 2009. Kekuasaan dan Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta, hlm. 208

[14] Kamrani Buseri, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah: Pemikiran Teoritis Praktis Kontemporer, (Yogyakarta: UII Press, 2003), hlm. 27.

[15] Amin Abdullah, Agama dan Pembentukan Kepribadian Bangda di Indonesia, 2010.

KOMUNITAS INTERFAITH: MEWUJUDKAN MASYARAKAT DAMAI

Pendahuluan

Hubungan antar agama di Indonesia dapat dikatakan mengalami dinamika yang fruktuatif. Sejak zaman sebelum kemerdekaan hubungan antar agama, secara khusus Islam dan Kristen memang banyak mewarnai di nusantara. Adanya sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa yang direvisi dari usulan Piagam Jakarta yang menambahkan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi penganutnya juga merupakan kesepakatan atas keberagaman keagamaan di Indonesia. Pancasila sebagai dasar Negara memang menjadi bagian penting dalam keberagaman Indonesia.

Namun keberagaman tersebut selain menjadi kelebihan dan kekayaan yang perlu dilestarikan tentulah juga dapat menimbulkan konflik jika keberagaman tersebut tidak ditata kelola dengan baik. Keberhasilan Indonesia sebagai Negara bangsa, dalam menata kelola keberagaman juga sangat menentukan keberhasilan dan perkembangan negara ini dalam segala bidang. Morat-marit kondisi Indonesia saat ini sebenarnya juga ditimbulkan ketidakmampuan semua elemen bangsa untuk menjaga persatuan dan kesatuan yang didasarkan akan kesadaran dalam keberagaman tersebut.

Mantan Presiden Indonesia Suharto yang memerintah selama 32 tahun dalam orde baru, sepertinya cukup mengerti tentang keberagaman Indonesia ini. Sehingga penempatan Pancasila sebagai ideologi tunggal dan gerakan pembangun yang menjadi tujuan bersama sepertinya sukses mengamankan pemerintahannya selama itu. Namun sebenarnya suasana itu disususun dengan cara otoriter yang mengenyahkan pandangan-pandangan lain dan menguatkan militeristik. Pada orde ini agama sepertinya juga menjadi satu bagian dalam pembangunan. Bagian-bagian agama yang kurang berhubungan dengan semangat pembangunan versi orde baru sepertinya juga dikekang. Hal ini terbukti dengan maraknya pemanfaatan isu agama oleh pihak ekstrim pada masa-masa akhir orde baru dan pasca jatuhnya orde baru. Tentulah reformasi juga menyimpan sisi negatif yakni kebebasan yang kebablasan.

Hubungan antar agama yang lama dalam masa pengekangan keluar dengan sangat bebasnya sejak masa reformasi. Penganut-penganut agama secara pribadi maupun kelompok mengeluarkan suara dan keinginan-keinginan mereka tanpa memandang (mengabaikan) penganut agama lain. Bahkan ekstrimya membangkitkan semangat perlawanan atas kecurigaan-kecurigaan yang selama ini menumpuk.

Penganut-penganut agama yang banyak berkonflik secara terbuka adalah Islam dan Kristen. Kedua agama yang mempunyai sejarah perjumpaan yang sangat dekat ini, ternyata mempunyai sejarah konflik yang sepertinya belum juga selesai walaupun tidak semua sejarah perjumpaan yang berbau konflik tersebut terjadi di Indonesia.

Sehingga diperlukan sebuah strategi baru yang bisa mempersatu bangsa. Penanaman kembali semangat pacasila sepertinya snagat dibutuhkan, seperti yang dilakukan Taufik Kemas dalam 4 Pilar Kebangsaannya. Namun harus disadarai ini adalah seperti menanam kembali tanah yang sudah terlanjur banyak sekali rumput liar dan duri serta bebatuan. Sehingga perlu waktu yang panjang untuk kembali menanam bibit-bibit Pancasila dengan baik.

Memulai hubungan antar umat beragama menjadi salah satu cara pembersihan rumput-rumput konflik tersebut. Diperlukan sebuah strategi khusus untuk mempertemukan penganut agama yang berbeda sehingga dapat mengkomunikasikan agama masing-masing sehingga kecurigaan yang ada selama ini sedikit demi sedikit terkikis. Sehingga kelompok-kelompok peacemaker sangat penting digalakkan dalam semua lapisan masyarakat. Pemuka agama (ulama) dan umat (grass root) harus disengajakan bertemu secara berkala dalam tataran social yang sesuai dengan kearifan lokal daerah-daerah dan semangat kebangsaan yang dituangkan dalam Pancasila dan UUD 1945.

Tentulah dalam perjumpaan-perjumpaan antar penganut agama yang disengajakan dalam tataran kedaerahan bahkan juga tataran teologis keagamaan dapat memberikan stimulus perbaikan hubungan yang akhirnya suatu saat dapat semangat ini menjadi life style kehidupan semua elemen bangsa Indonesia. Pengedepanan semangat saling mendengar dan saling memahami memang mutlak diperlukan sehingga semua elemen bangsa dapat bergandengan tangan menuju Indonesia yang dicita-citakan dalam pembukaan UUD 1945.

Oleh karena itu,penulis dalam paper ini mencoba menguraikan strategi komunitas interfaith (Lintas iman) dapat dilakukan untuk mewujudkan masyarakat damai di Indonesia serta seperti apa wujud komunitas peacemaker sebagai wadah mewujudkan keadilan dan perdamaian di Indonesia.

 

Kehidupan Beragama di Indonesia

Cita-cita akan persatuan Nusantara telah dikumandangkan sejak jaman kerajaan Majapahit oleh Gajah Mada sejak abad XIV. Cita-cita Gajah Mada ini akhirnya terealisasi setelah lebih dari tujuh abad dengan di proklamasikannya kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan ini tidak didapat dengan begitu saja, namun dengan pengorbanan seluruh bangsa Indonesia melawan penjajahan. Namun, perjuangan melawan penjajahan ini masih menyimpan masalah disharmonitas keagamaan di Indonesia.

Belanda menjajah Indonesia dengan waktu yang cukup lama, yakni kurang lebih tiga setengah abad. Belanda dengan membawa misi 3G (Glory, Gold dan Gospel) datang ke Indonesia. Oleh karena itu selain ingin menguasai tanah dan hasil bumi Indonesia, Belanda juga dianggap membawa misi injil (akrab disebut sebagai kristenisasi). Oleh karena itu, sampai saat ini Kristen sering dianggap menjadi ‘agama warisan kolonial’. Kondisi ini sangat dibedakan dengan masuknya Islam ke Indonesia yang diklaim dengan cara damai oleh para wali karena pada waktu itu mayoritas penduduk Indonesia beragama Hindu dan juga agama-agama suku lainnya.

Pascatumbangnya PKI, banyak terjadi konversi orang-orang yang dicurigai sebagai pengikut Komunis ke dalam agama Kristen. Konversi tersebut terjadi di wilayah-wilayah di mana Kristen cukup memiliki fasilitas dan pengaruh sosial. Di tempat-tempat yang umat Kristennya sangat minim dan Islamnya kuat, konversi tersebut tidak banyak terjadi. Alasan konversi para mantan atau orang-orang yang dicurigai sebagai komunis ke dalam Kristen didasarkan atas faktor: 1) pemerintah mewajibkan semua orang menganut salah satu agama yang diakui oleh negara, dan 2) masyarakat muslim, di samping ABRI, adalah kelompok yang sangat getol menumpas PKI. Karena itu, para mantan anggota dan orang-orang tertuduh komunis lebih nyaman masuk Kristen dibandingkan masuk Islam.[1]

Kenyataan tersebut menambah ketegangan hubungan antara orang Islam dan Kristen. Para mantan anggota komunis dianggap secara tradisional beragama Islam, sebagaimana umumnya orang Jawa. Keislaman tersebut lebih merupakan warisan sosial dan kultural dibandingkan sebagai sebuah kesadaran. Kasus di Pare Kabupaten Kediri menunjukkan bahwa meskipun para simpatisan partai Permai, yang berorientasi kepada heterodoksi dan memperoleh massa di kalangan muslim abangan, menentang syariat Islam, mereka tidak dapat melepaskan diri dari tradisi yang diwarnai oleh ajaran Islam, seperti dalam tata cara penguburan jenazah.[2]

Pasca rejim Soekarno runtuh, Soeharto dengan orde barunya memimpin Indonesia dengan jargon mengedepankan stabilitas dan peningkatan pembangunan. Untuk tujuan stabilitas dan peningkatan pembangunan ini, Suharto dan rejimnya membatasi partisipasi keagamaan.[3] Partai-partai politik berbasis agama (khususnya Islam), tidak mendapatkan keuntungan dari penghancuran Partai Komunis Indonesia. Justru Suharto mengekang mereka ketat, memaksa partai-partai Islam melakukan fusi politik ke dalam kelompok tunggal bernama Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ini berubah kemudian pada tahuntahun terakhir kekuasaannya, mula-mula Suharto menindas dan memperkuat organisasi Islam sebagai kekuatan politik, negara makin diidentifikasi sebagai pengawas Islam.[4]

Meski pemerintah mengawasi dengan ketat kelompok-kelompok Muslim, aksi-aksi kekerasan oleh para militan terhadap minoritas agama sesekali terjadi. Misalnya, pada awal 1967, militan Muslim menyerang properti Kristen di Meulaboh di Aceh, Makassar di Sulawesi, dan Jakarta, mengklaim mereka melawan “Kristenisasi.”[5]

Pada November 1967, rezim Suharto menggelar konferensi lintas-agama di Makassar untuk mengatasi ketegangan antara umat Islam dan Kristen. Saat konferensi, organisasi Muslim mendesak gereja-gereja Kristen tak menyebarkan atau membangun gereja baru di daerah mayoritas Muslim. Pemuka Kristen menolak usulan itu dan konferensi berakhir tanpa mencapai sebuah kesepakatan. Pada September 1969, Menteri Agama Mohammad Dahlan dan Menteri Dalam Negeri Amir Machmud mengeluarkan surat keputusan bersama tentang rumah ibadah yang memberi wewenang pejabat lokal mengizinkan atau melarang pembangunan rumah ibadah.[6]

Perkembangan berikutnya pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), yang disponsori negara pada 1990, dipimpin Menteri Riset dan Teknologi saat itu B.J. Habibie, yang menjadi prsiden ketiga menggantikan Suharto. Pada kurun waktu ini sepertinya Suharto melunak dan memberikan akses kepada intelektual-intelektual islam namun masih dalam jangkauan pengawasan rejimnya. Namun dalam kurun waktu 1995-1997 saja, menurut tim Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan & Kawasan UGM, tercatat ada 20 kerusuhan yang bermotif agama di Indonesia.[7]

Jatuhnya Presiden Suharto pada Mei 1998 melepaskan kekangan aktivitas politik lintas spektrum politik. Huru-hara yang melibatkan agama di dalamnya juga meledak di berbagai tempat. Di bagian utara Sumatra, para pemberontak Aceh menuntut referendum yang sama seperti di Timor Timur pada 1999. Di Kalimantan, milisi Dayak dan Melayu membantai pemukim Madura pada 1999-2003, sementara ribuan lebih orang tewas selama konflik sektarian di kepulauan Maluku pada 1999-2004. Kekerasan sektarian antara Kristen dan Muslim juga meletus di Poso, Sulawesi. Selepas Suharto jatuh, pengaruh politik Islam konservatif kian meningkat, sebagian karena partai-partai politik Islamis diizinkan memainkan peran legal dan terbuka dalam politik Indonesia, dan sebagian lagi karena kelompok-kelompok masyarakat sipil garis keras, yang beroperasi di luar sistem politik, berkembang dalam jumlah, ukuran, dan ditempa pengalaman.[8]

Pasca-Suharto, kalangan Islamis, sebagaimana kelompok lain, memakai ruang demokrasi yang luas untuk menyebarkan dan mempromosikan gagasannya. Kelompok Islamis populis dan bahkan militan berkembang dengan mantap dalam menggalang kekuatan. Mereka termasuk Front Pembela Islam (FPI), dibentuk Agustus 1998, tiga bulan setelah Suharto lengser, dengan dukungan dari aparat keamanan yang saat itu bertujuan menantang kelompok mahasiwa yang memainkan peran kunci mendesak Suharto mundur.

Sejak Susilo Bambang Yudhoyono menjabat presiden pada tahun 2004, terjadi peningkatan kekerasan dengan sasaran Ahmadiyah, Kristen, Syiah, dan minoritas agama lain, sebagaimana data dari Setara Institute, yang dipaparkan di atas. Lebih dari 430 gereja diserang sejak 2004, menurut Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Serangan terhadap masjid-masjid Ahmadiyah meningkat dengan mencolok sejak presiden sepertinya menuruti tekanan kelompok-kelompok Islamis garis keras dan mengeluarkan surat keputusan bersama anti-Ahmadiyah pada Juni 2008. Sejak itu, sedikitnya 30 masjid Ahmadiyah disegel.[9] Bahkan saat ini pengungsi Syah Sampang sudah dipindahkan dari GOR Sampang ke sebuah lokasi di Sidoarjo. Tentulah hal ini juga bukan solusi dari perdebatan yang ada, namun demi alasan keamanan kembali minoritas menjadi tersingkirkan.

Masih banyak data tentang konflik berbasis agama yang telah terjadi di Indonesia. Beberapa data di atas sudah menunjukkan bahwa keadilan dan kebebasan dalam berkeyakinan dan menjalankan kepercayaannya di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang rumit bagi segenap elemen bangsa ini. Hal ini diperparah dengan reformasi yang terlalu bebas (tanpa kontrol) sebagai akibat lepasnya dari gengaman rejim yang otoriter. Dalam masa reformasi ini kelompok-kelompok yang militant ekstrim menujukkan jati diri mereka dengan sikap-sikap permusuhan sehingga konflik kerap terjadi.

Komunitas Interfaith Peacemaker

Komunitas Interfaith peacemaker yang penulis maksudkan dalam hal ini adalah meliputi komunitas-komunitas antar/inter agama yang bertujuan mewujudkan perdamaian seperti komunitas yang berupa kajian akademik, yang berupa aksi bersama maupun gabungan dari keduanya. Ada dua komunitas yang penulis coba utarakan sebagai contoh dalam kajian ini, yakni SITI (studi intensif tentang islam) bagi pendeta yang dilaksanakan oleh Studi Agama-agama UKDW dan Lembaga Pengkajian Sinode-Sinode GKJ dan GKI SW Jateng serta Young Peacemaker Community Indonesia (YPCI). Pemilihan kedua contoh ini terbatas karena penulis pernah mengikuti SITI dan juga aktif di YPCI. Masih banyak komunitas-komunitas lainnya yang juga aktif dalam lintas iman dan menyuarakan perdamaian, sepertinya SITI sudah mewakili kaum ulama (pemuka agama) dan YPCI mewakili akar rumput dalam tataran pemuda.

 

  1. Studi Intensif tentang Islam (SITI)[10]

SITI adalah sebuah kegiatan yang diinspirasi oleh Djaka Soetapa seorang guru besar UKDW yang juga mengajar di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam pelaksanaannya SITI terlaksana atas kerjasama Pusat Studi Agama-agama (PSAA) UKDW dan LPP Sinode-sinode GKJ-GKI SW Jateng. SITI dilaksanakan dengan tujuan agar pendeta-pendeta dapat memahami Islam dan ajaran serta fenomena didalamnya langsung dari sumber aslinya yakni dari dosen dan ulama Islam. Sampai tahun 2013, SITI sudah diadakan sebanyak 11 kali sejak tahun 2012 pertama kali dilakukan. Kegiatan ini dilakukan setahun sekali, biasanya di pertengahan tahun, pada angkatan XI ini diadakan pada tanggal 10-15 Juni 2013 di Wisma UKDW Kaliurang.

Angkatan XI adalah kelas advance setelah sepuluh kali dilakukan dengan tema-tema yang bisa dikatakan sebagai pengetahuan dasar tentang Islam dan fenomena keagamaan di dalamnya. Angkatan XI lebih menekankan kepada peranan atau tindak lanjut yang lebih kongkret bukan hanya sekedar pengetahuan dan pemahaman. Dalam kegiatan ini pendeta-pendeta yang mayoritas dari GKJ dan GKI bersama 5 orang perwakilan dari pascasarjana UIN Sunan Kalijaga selama kurang lebih 6 hari mendengar pemaparan pembicara dan berdiskusi bersama tentang fenomena-fenomena keberagamaan di Indonesia serta mencoba mendiskusikan alternatif -alternatif solusi dari permasalahan yang ada.

Selanjutnya biasanya para peserta akan mengadakan live in di sebuah pesantren. Kegiatan live in akan memberikan suasana dan pengalaman baru bagi para pendeta. Aktivitas sehari-hari bersama ulama dan santri akan dengan sendirinya memberikan saraa dialog yang mengalir dan santai. Dialog bisa dimulai dengan kehidupan sehari-hari dan juga sampai ke tataran teologis yang lebih dalam.

Pendeta-pendeta ini adalah pemimpin Gereja yang langsung bersentuhan langsung dengan umat/jemaat di akar rumput. Dari pendeta-pendeta ini penulis mendapati fakta-fakta kehidupan beragama yang berdinamika. Ada yang masih dalam tahap mencoba memahamkan kepada jemaatnya, ada yang sudah melakukan pendekatan dalam interen maupun antar agama. Banyak cerita-cerita keberhasilan sekaligus kegagalan.

Namun paling tidak ketika mengikuti SITI setiap pendeta akhirnya memiliki paradigma yang baru akan Islam yang lebih positif dan sedikit demi sedikit prasangka-prasangka yang dimiliki selama ini terkikis karena mendapatkan informasi yang baik langsung dari sumber utama, yakni pengajar (akademisi) dan ulama Islam sendiri. Paradigma baru ini tentulah menjadi modal yang sangat baik bagi para pendeta untuk memberikan kotbah-kotbah di Gereja yang lebih mengedepankan perdamaian. Bahkan tidak hanya itu, pendeta-pendeta juga mampu untuk memberikan klarifikasi yang baik atas setiap pertanyaan atau prasangka dari jemaatnya. Karena tidak dapat dipungkiri masyarakat di akar rumput mempunyai prasangka-prasangka buruk yang dapat menjadi pemicu konflik.

 

  1. Young Peacemaker Community Indonesia (YPCI)[11]

YPCI adalah sebuah komunitas pemuda dan mahasiswa yang bergerak dalam perdamaian lintas agama. Komunitas ini diinisiatifin oleh mahasiswa ICRS, sebuah program Doktoral dalam Studi Agama-agama yang di fasilitasi oleh UGM, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UKDW Yogyakarta. Dua mahasiswa ICRS dan dua mahasiswa lainnya mendapatkan training 12 nilai perdamaian dari komunitas Peace Generation yang berpusat di Bandung.

Inspirasi dari training ini dibawa ke Yogyakarta dan atas dukungan ICRS dilaksanakan training Peace bagi mahasiswa. Dari training ini peserta akhirnya membentuk sebuah komunitas yang akhirnya diputuskan bernama YPCI pada 15 Juli 2012. Sejak itu setiap minggu atau minimal sekali dua minggu komunitas ini melakukan diskusi dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bertujuan saling memahami dan juga saling mengakrabkan.

Selanjutnya setiap semesternya YPCI mengadakan Peace Camp yang bertujuan untuk memberikan pemahaman perdamaian (khususnya Islam-Kristen) kepada mahasiswa-mahasiswa. Selama 3 hari 2 malam setiap peserta peace camp hidup bersama dalam sebuah tempat khusus untuk camp. Sesi dalam camp ini diawali dengan mengenal diri dan dilanjutkan mengatasi prasangka. Dalam sesi ini setiap peserta dipandu untuk memahami diri sendiri dan menghilangkan prasangka-prasangka yang ada atas sesama yang berbeda. Setelahnya baru masuk ke sesi keberagaman dan mengatasi konflik tanpa kekerasan dilanjutkan dengan resolusi konflik yakni sikap memaafkan dan meminta maaf. Setiap sesi disajikan dengan permainan dan interaksi antar fasilitator dan peserta. Dialog yang santai dan baik akan terjadi dengan sendirinya saat mereka bertemu saat makan, ngantri mandi, di waltu-waktu istirahat lainnya seperti menjelang tidur.

Dalam setiap kegiatan sering ada cerita-cerita yang membangun dari setiap peserta tentang prasangka-prasangka yang mereka miliki yang terjawab dengan komunikasi dengan teman yang berbeda atau yang mewakili pihak yang dicurigai atau diprasangkai. Kecurigaan dan prasangka ini sering kali merupakan warisan dari orang tua atau ulama (pemuka agama) mereka sendiri tanpa pernah mendengar atau berinteraksi langsung. Contohnya, prasangka seorang Kristen akan sikap Jihad yang ditunjukkan dalam terorisme oleh penganut agama Islam dikonfirmasi sendiri oleh mahasiswa lainnya yang beragama Islam, bahwa hanya segelintir orang yang beragama Islama yang melakukan itu dan dia sebagai Islam juga tidak setuju dengan tindakan itu karena Islam itu damai. Interaksi-interaksi seperti ini akan memberikan pelajaran dan pemahaman baru yang mendamaikan.

Sejak ada, YPCI sudah mengadakan 3kali peace camp, selain itu YPCI juga mengadakan dialog dengan organisasi-organisasi mahasiswa lainnya dengan tujuan menyebarkan perdamaian. Perayaan hari raya keagamaan bersama juga kerap menjadi wahana saling memahami, seperti Lebaran bersama, Natalan bersama, dan lainnya. Interaksi-interaksi ini membawa anggota YPCI untuk melihat indahnya keberagaman dan menyemangati setiap anggota untuk mendialogkan perdamaian dalam komunitas-komunitas mereka.

 

Analisis Pentingnya Komunitas Lintas Iman sebagai Militants for Peace

Suasana intoleran yang terjadi di Indonesia ditunjukkan dengan tingginya tingkat kekerasan yang terjadi. Secara khusus penganut agama Islam dan Kristen menyumbangkan catatan terbesar dalam konflik di Indonesia. Selain sejarah perjumpaan yang kurang baik di Indonesia, kedua agama ini juga punya sejarah hitam dalam konflik yang berkepanjangan seperti perang salib. Bahkan konflik antara Negara-negara Timur Tengah dengan Amerika Serikat dan Eropa sering diibaratkan menjadi konflik Islam dan Kristen.

Kurangnya interaksi antar umat beragama menjadi sebab yang utama akan kurangnya pemahaman tentang umat yang lain. Dalam beberapa interaksi lintas iman dalam beberapa kegiatan, prasangka buruk akan teman yang berbeda yang sudah ada sejak kecil yang diwariskan dari orang tua atau pemuka agama juga menjadi halangan di awal. Diperlukan interaksi yang lebih untuk dapat memecahkan prasangka-prasangka ini. Dengan dikonfirmasinya prasangka tersebut maka dialog berikutnya yang lebih mendalam dan juga teologis dapat dilakukan dengan tujuan saling memahami dan saling berbagi nilai-nilai kebaikan.

Dengan aktivitas-aktivitas lintas iman yang digalakkan dalam semua lapisan masyarakat (tidak hanya dikalangan ulama) akan memberikan kemungkinan lahirnya generasi-generasi yang mengutamakan perdamaian kedepannya. Sebahagian besar dari kita saat ini adalah produk pendidikan (baik formal maupun informal di keluarga dan lembaga agama) yang menonjolkan kecurigaan dan membenarkan prinsip, ideologi atau agamanya dengan menyalahkan atau menjelek-jelekkan pihak yang lain. Bahkan kita banyak dididik dengan ketakutan-ketakutan akan perbedaan tersebut bukan kebanggaan akan keperbedaan.

Kebanggaan akan Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika sepertinya sudah luntur dan digantikan oleh fanatisme berlebihan terhadap agama atau kelompoknya sendiri. Ketika kelompok ini menjadi kelompok yang mewakili kalangan mayoritas maka akan memunculkan sikap arogansi kepada kelompok minoritas. Namun saat aspirasi kelompok militan ekstrim ini tidak terakomodasi maka akan menimbulkan pembentukan kelompok-kelompok militan yang ekstrim.

  1. Scoot Appleby dalam bukunya The Ambivalence of Sacred: Religion, Violence, and Reconcilation memberikan saran untuk mengimbangi kelompok-kelompok militan ekstrim ini dengan mengembangkan dan membentuk kelompok-kelompok militan damai (Militants for Peace).[12] Untuk membangun kelompok-kelompok Militants for Peace ini diperlukan komunitas-komunitas lintas iman yang mengutamakan damai dan tujuannya menyatakan rahmat bagi alam semesta.

Komunitas-komunitas lintas iman seperti YPCI, SITI, dan kelompok-kelompok lainnya yang berbasis di daerah dan di kampus-kampus jika dikelolah dengan baik dan mengedepankan nilai-nilai perdamaian yang mengedepankan rahmat bagi alam semesta dapat melahirkan orang-orang yang Militants for Peace. Ketika setiap penganut agama sekaligus menjadi seorang Militants for Peace, dapat dipastikan bahwa kekerasan dan konflik yang mengatas namakan agama di Indonesia dan dunia ini akan berangsur-angsur selesai. Namun yang menjadi pertanyaan dan permasalahannya sepertinya dunia masih sangat kekurangan orang-orang yang bisa dijadikan sebagai rool model seorang Militants for Peace. SITI sebagai wadah untuk pendeta-pendeta mungkin dapat di duplikasi untuk agama-agama lain juga dan YPCI dan komunitas di akar rumput lainnya harus digalakkan untuk menciptkan para Militants for Peace yang akhirnya bisa menjadi rool model bagi sekitar kita.

Sebenarnya dialog yang diharapkan disengajakan terjadi dalam aktivitas komunitas lintas iman adalah budaya bangsa kita yang dikenal dengan ‘Musyawarah dalam Mufakat’. Namun budaya musyawarah ini sepertinya sudah lama ditinggalkan dan tinggal hanya semboyan saja. Oleh karena itu, diharapkan nanti dengan berkembangnya komunitas lintas iman maupun lintas budaya, semangat dialog dalam musyawarah mufakat tersebut dapat kembali digalakkan dan akhirnya menjadi life style bangsa kita kembali.

 

Penutup: Sebuah refleksi

Kerinduan akan sosok-sosok Militants for Peace yang semakin banyak dimasa mendatang adalah sesuatu hal yang harus diperjuangkan. Namun kerinduan ini tidaklah muncul begitu saja tanpa usaha. Diperlukan strategi-strategi yang benar-benar disegajakan dan dikerjakan dengan maksimal oleh segenap lapisan masyarakat yang dimulai dari kesadaran-kesadaran pribadi. Kesadaran pribadi inilah yang dapat ditularkan bukan hanya sekedar teori namun kerja nyata sehingga sekitar kita tidak merasa digurui namun diberikan contoh nyata.

Penulis sebagai seorang yang dilahirkan dari keluarga Kristen dengan aliran Pantekosta juga mengalami proses-proses yang panjang dalam menemukan kesadaran akan pentingnya menjadi seseorang yang mengedepankan damai dan menjadi rahmat bagi setiap orang dan alam semesta. Kesadaran-kesadaran yang muncul dari pengalaman berinteraksi dari komunitas lintas iman ini ditambah dengan beberapa teori-teori dari para akademisi dan peneliti yang mengabdikan dirinya dalam studi agama dan resolusi konflik ini memberikan peluang yang besar bagi penulis untuk menyebarkan kesadaran tersebut.

Jika semangat Militants for Peace ini dimiliki setiap orang (setidaknya para ulama/ pemuka agama serta para pemimpin dan akademisi) maka kerinduan akan berhentinya konflik berkepanjangan antar agama dan inter agama yang telah terjadi di Indonesia sejak zaman penjajahan, kemerdekaan sampai reformasi saat ini niscaya akan terwujud. Oleh karena itu, diperlukan sebuah generasi damai (Militants for Peace) yang dapat memutus semua rangkaian rantai konflik yang telah berkepanjangan tersebut. Untuk terbentuknya generasi tersebut diperlukan tindakan nyata dari semua kita yang telah memiliki kesadaran akan pentingnya perdamaian itu. Sehingga kita dapat bermimpi insya Allah generasi setelah kita adalah generasi-generasi yang militant untuk perdamaian (generasi damai).

 

 

 

Daftar Pustaka

Mujiburraman, Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order (Amsterdam: Amsterdam University Press. 2006)

Geertz, Clifford, The Religion of Java (Chicago: The University of Chicago Press, 1976), hlm. 117-118.

Hwang, Julie Chernov, Umat Bergerak: Mobilisasi Damai Kaum Islam di Indonesia, Malaysia dan Turki, Terj.Samsudin Berlian, Jakarta: Freedom Institude. 2011

Tim Human Rights Watch, ATas Nama Agama: Pelanggaran terhadap Minoritas Agama di Indonesia, Human Rights Watch. 2013

Soehadha, Moh,dkk (editor), Kekerasan Kolektif: Kondisi dan Pemicu, Yogyakarta: P3PK UGM, 2000

Appleby, R. Scoot, The Ambivalence of Sacred: Religion, Violence, and Reconcilitation, Rowman & Littlefield Publisher, 2000

 

 

Sumber lain:

  • Pengalaman penulis mengikuti SITI angkatan XI tahun 2013.

Pengalaman penulis sebagai fasilitato

[1] Mujiburraman, Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order (Amsterdam: Amsterdam University Press. 2006)

[2] Clifford Geertz, The Religion of Java (Chicago: The University of Chicago Press, 1976), hlm. 117-118.

[3] Julie Chernov Hwang, Umat Bergerak: Mobilisasi Damai Kaum Islam di Indonesia, Malaysia dan Turki, Terj.Samsudin Berlian, Jakarta: Freedom Institude. Hlm.69-70

[4] __, ATas Nama Agama: Pelanggaran terhadap Minoritas Agama di Indonesia, Human Rights Watch. 2013. Hlm.12

[5] Di Jakarta, sekelompok orang menyerang dan membakar gereja yang baru dibangun pada 28 April 1969. Di Meulaboh pada 1967, para politisi terlibat dalam perdebatan parlemen tentang rencana pembangunan gereja Methodist. Di Makassar pada 1 Oktober 1969, para pelajar Muslim dipimpin Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menyerang sembilan gereja Protestan, empat gereja Katholik, sebuah biara, sebuah kampus teologi, sebuah asrama mahasiswa Katholik dan dua sekolah Katholik.

HMI Makassar saat itu dipimpin ketua umum Jusuf Kalla yang kelak menjabat wakil presiden Indonesia pada 2004. Lihat __, ATas Nama Agama: Pelanggaran terhadap Minoritas Agama di Indonesia, Human Rights Watch. 2013. Hlm.12

[6] Ibid, hlm.13

[7] Kerusuhan-kerusuhan ini terjadi di Timur-timur, NTT, Papua, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jakarta. Kerusuhan ini berbentuk penyerbuan kepada identitas agama seperti rumah ibadah dan tak jarang juga memakan korban jiwa. Selengkapnya lihat Moh Soehadha,dkk (editor), Kekerasan Kolektif: Kondisi dan Pemicu, Yogyakarta: P3PK UGM.2000, hlm.2

[8] __, ATas Nama Agama: Pelanggaran terhadap Minoritas Agama di Indonesia, Human Rights Watch. 2013. Hlm.13-14

[9] Ibid, hlm.14

[10] Disarikan dari pengalaman penulis mengikuti SITI angkatan XI, sebagai salah satu wakil mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang diadakan pada 10-15 Juli di Wisma UKDW Kaliurang.

[11] Disarikan dari pengalaman penulis yang aktif sebagai fasilitator dan anggota dalam kegiatan-kegiatan YPCI.

[12] R. Scoot Appleby, The Ambivalence of Sacred: Religion, Violence, and Reconcilitation, Rowman & Littlefield Publisher, 2000

YOUNG INTERFAITH PEACEMAKER COMMUNITY (YIPC): Sebuah Gerakan Perdamaian Berbasis Keagamaan

PENDAHULUAN

Indonesia adalah sebuah negara bangsa yang dibangun dalam keanekaragaman yang sangat besar. Bayangkan saja negara Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki 13.466 pulau[1], selain itu negara ini memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa[2] dengan lebih dari 2.500 bahasa daerah (bahasa sehari-hari) yang digunakan oleh masyarakat[3]. Selain itu, keanekaragaman agama yang dianut masyarakat Indoensia juga turut memberikan warna tersendiri dalam kehidupan bangsa ini, secara resmi ada 6 agama yang dinyatakan ‘resmi’ dalam negara ini yakni: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu, Buddha, serta Konghucu. Tidak hanya itu, sejak sebelum masuknya agama-agama diatas, Indonesia (Nusantara) sudah memiliki agama (keyakinan) lokal dari hampir setiap suku, yang pada masa Orde Baru disebut sebagai Aliran Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keanekaragaman ini memberikan pembeda yang sangat jelas antara Indonesia dan negara-negara lainnya.

Keanekaragaman ini adalah berkah bagi bangsa Indonesia secara khusus menjadi kebanggaan tersendiri bagi penduduknya. Namun, keanekaragaman ini dapat saja menjadi ‘bumerang’ tersendiri karena jika tidak dapat di manajemen dengan baik dapat mengakibatkan konflik yang dapat merusak sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Konflik berdasarkan perbedaan SARA yang berujung kepada kekerasan fisik maupun psikis sudah sangat sering terjadi dalam bangsa ini. Bentrok yang berujung jatuhnya korban jiwa yang dilatar-belakangi perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan sudah menjadi kisah-kisah pilu dalam sejarah pra dan pasca kemerdekaan Indonesia. Dimulai dengan kisah-kisah perang antar kerajaan yang dibentuk oleh suku-suku, propoganda divide et impera (pecah belah lalu kuasai) yang diterapkan oleh kolonial Belanda pada masa penjajahan ternyata sangat efektif untuk memporak-porandakan dan menguasai nusantara yang sangat besar ini, negara sekecil Belanda dapat menguasai dan menjajah Nusantara yang sangat luas.

Masuknya penjajahan Belanda dengan misi ‘3G (Gold, Glory, Gospel)’nya turut memberikan nuansa konflik tersendiri. Kristen sampai saat ini (tentunya oleh beberapa kalangan) masih dianggap sebagai agama ‘warisan penjajah’. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena penyebaran agama Kristen di Indonesia di beberapa tempat di tanah air bersamaan dengan masuknya penjajahan Belanda. Walaupun sebenarnya Belanda sebenarnya tidak memberikan keleluasaan bagi para misionaris Kristen dengan melakukan pola pendekatan ‘Kapling’, yakni pola yang membagi wilayah nusantara menjadi kapling-kapling kawasan aktivitas. Ada wilayah untuk aktivitas misi Katholik dan ada juga wilayah aktivitas misi Protestan serta ada daerah khusus kesultan (Islam) yang tidak dapat dimasuki para zending. Semua ini dibagi-bagi agar aktivitas penyebaran agama tidak mengganggu aktivitas eksplorasi alam dan penjajahan yang dilakukan bangsa kolonial (Belanda).[4] Hal ini yang menyebabkan biasanya penganut agama Kristen mayoritas dari suku-suku yang awalnya belum menganut agama Islam ataupun Buddha maupun Hindu, seperti Batak Toba, Toraja, Manado, Dayak, Ambon dan Papua.

Setelah kemerdekaan diproklamasikan, Pancasila dijadikan sebagai dasar negara yang dianggap mampu mempersatukan keanekaragaman yang ada di tanah air. Penentuan Pancasila sebagai dasar negara dan apa yang menjadi isinya merupakan rumusan para Founding Father bangsa ini. perdebatan isi dari sila pertama yang akhirnya disahkan sebagaimana yang kita kenal sampai saat ini sebagai ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ merupakan kesadaran penuh akan Keankeragaman (khususnya agama) yang dianut masyarakat Indonesia. Pancasila adalah titik temu yang lahir dari kesadaran bersama pada saat krisis, dan tentunya dapat diputuskan oleh karena kesadaran untuk berkorban[5] demi kepentingan yang lebih besar, yakni membentuk bangsa yang besar.[6] Pancasila ini juga diperkuat dengan semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang berarti berbeda-beda tetapi satu jua. Semboyan ini memberikan semangat yang besar bagi bangsa ini karena dengan kesadaran penuh seharusnya seluruh elemen bangsa ini menyadari bahwa bangsa ini dibangun atas dasar kesadaran akan perbedaan-perbedaan yang dibungkus oleh semangat perjuangan sebagai bangsa yang merdeka.

Namun kesadaran akan pentingnya merawat persatuan dan kesatuan bangsa ini, masih terus menjadi pekerjaan yang belum tuntas seluruh elemen bangsa ini. dalam skala besar, keluarnya Nusa Tenggara Timur (saat ini menjadi negara Timor Leste) pada tahun 1999 dari NKRI, Gerakan-gerakan separatis yang melakukan usaha-usaha pemisahan daerah tertentu dari NKRI seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka), OPM (Operasi Papua Merdeka) masih menjadi tantangan perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Gerakan-gerakan separatis ini biasanya disandarkan akan perasaan termarjinalkan dan ketidakmerataan ekonomi dan perkembangan daerah. Selain itu maraknya tindakan teror oleh sekelompok penganut keagamaan yang mengatsnamakan tindakan mereka kepada ajaran agama seperti JI (jemaah Islamiyah), NII (Negara islam Indonesia) dan lainnya juga menjadi keresahan tersendiri. Uniknya serangan sekelompok kaum militan (kerap disebut sebagai tindakan terorisme) ini saat ini berubah dari awalnya melakukan serangan terhadap kepentingan asing (seperti kedutaan negara asing) dan rumah ibadah (dalam hal ini Gereja menjadi Rumah Ibadah yang menjadi sasaran), saat ini berbalik arah melakukan tindakan teror terhadap simbol keamanan negara yakni kepolisian. Apapun yang menjadi dalilnya, tindakan ini dapat dikatakan sebagai ancaman akan persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Keanekaragaman adalah berkah, namun di sisi lain menjadi ‘bencana’ ketika keanekaragaman itu gagal dikelola dengan baik. Agar keanekaragaman ini dapat menjadi berkah warisan turun temurun, perlulah sebuah langkah yang dilakukan secara simultan dan terencana bukan hanya sekedar langkah penanggulangan yang hanya sekedar lakukan saat konflik sudah terjadi. Memang langkah-langkah pencegahan konflik kekerasan sebelum terjadi dan upayah resolusi konflik saat konflik sudah terjadi perlu terus dilakukan dalam waktu pendek saat ini. Namun, tidak cukup hanya langkah-langkah resolusi konflik saja, dalam jangkah menengah dan panjang perlu dilakukan sebuah terobosan penting untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian dalam keanekaragaman dan keindahan keanekaragaman tersebut kepada elemen bangsa, mulai dari usia dini.

Tugas ini memang bukanlah tugas pemerintah dan pemuka agama saja, namun menjadi tugas seluruh elemen bangsa ini. semua manusia tentulah mengharapkan adanya kedamaian dalam kehidupannya. Namun perwujudan perdamaian itu sering kali di usik dengan maraknya tindakan intoleran yang terus terjadi. Kasus-kasus yang dilatarbelakangi dugaan penodaan agama, pendirian rumah ibadah juga masih terus marak terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Penolakan akan sesama berdasarkan perbedaan (khususnya agama) sepertinya masih terus menjadi permasalahan sendiri, bahkan pihak-pihak yang melakukannya juga tidak hanya sekedar oleh pendirian subjektivitas namun disandarkan pada dalil kitab suci yang mendasari perlakuannya.

Namun, ditengah gejolak yang sama, pada hakikatnya mulai bermunculan pemikiran-pemikiran yang sebaliknya ingin menciptakan perdamaian. Pemikiran-pemikiran ini mulai diwacanakan dengan mengadakan seminar, pelatihan dan kajian studi yang mendalam, juga penelitian tentang perwujudan perdamaian tersebut. tidak hanya itu, komunitas-komunitas perdamaian dan kerukunan mulai dibentuk baik secara swasembada masyarakat maupun bentukan pemerintah seperti FKUB, dan tidak ketinggalan juga para akademisi juga memikirkan langkah aktif selain pemikiran keilmuannya.

Saat ini begitu banyak, komunitas-komunitas yang mengusung isu perdamaian muncul di Indonesia, bahkan tidak ketinggalan juga dinaungi oleh para kaula muda dan mahasiswa. Jika sebelumnya komunitas-komunitas mahasiswa sering kali dilandasi oleh ideologi tertentu dalam pembentukanya -seperti HMI, PMII, KAMMI, GMKI, PMKRI, GMNI, dll- saat ini marak juga komunitas-komunitas mahasiswa yang tidak dilandasi ideologi agama tertentu namun mengusung isu-isu perdamaian. Salah satu dari komunitas itu yang baru-baru ini dibentuk di Yogyakarta adalah Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC).

 

Sejarah Berdirinya YIPC Indonesia[7]

YIPC Indonesia didirikan pada tanggal 12 Juli 2012 di Yogyakarta. Berawal ketika 2 orang mahasiswa ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies), Andreas Jonathan dan  Ayi Yunus Rusyana, mendirikan YiPCI setelah mereka mengikuti training Peace Generation di kota bandung pada bulan februari 2012. YiPCI dibentuk dengan suatu tujuan besar yaitu “Building Peace Generation Through Young Peacemakers”, dimana  yang menjadi fokus mereka adalah mahasiswa S1.

YiPCI memulai kegiatannya di Yogyakarta pada tanggal 9-12 Juli 2012. Andreas dan Ayi menyelenggarakan “Young Peacemaker Training” di Gedung Pasca Sarjana UGM Yogyakarta. Training ini bekerjasama dengan teman-teman dari Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana dan dihadiri sekitar 25 orang mahasiswa S1 Muslim dan Kristiani dari berbagai kampus di Yogyakarta. Training yang memperlajari 12 Nilai Perdamaian dari Peace Generation ini, menjadi cikal bakal Young Peacemaker Community (YPC) Jogja. Mulai bulan September 2013 diadakan pertemuan regular dari para anggota YIPCJ dengan mengadakan interfaith dialogue, Kajian Kitab Suci serta mempersiapkan Student Interfaith Peace Camp November 2012. Peace Camp yang pertama ini diadakan di Pakem dan diikuti sekitar 30 orang mahasiswa baik dari Jogja maupun luar Jogja (Palembang, Bandung, Kebumen, Solo, Surabaya, dan Madura) dengan mengambil tema “Building Peace Generation Through Young Peacemaker”. Tema ini kemudian menjadi motto YPCI.

Karena semakin beragamnya peserta, maka setelah Peace Camp, nama YPC Jogja diubah menjadi YPC Indonesia (YPCI). Di tahun 2013 antara bulan Maret-Mei, YPCI mengadakan 3 Student Interfaith Peace Camp di Medan (untuk Sumatera), di Trawas (untuk Jawa Timur), dan di Kaliurang (untuk Jogja dan Jawa Tengah). Rata-rata peserta Peace Camp adalah 30 orang mahasiswa Muslim dan Kristiani. Sejak itu, YPCI telah eksis di 3 kota: Jogyakarta, Medan, dan Surabaya dengan mengadakan Regular Dialog setiap minggunya.

Di bulan Juli 2013, memperingati 1 tahun usia YPCI, diadakanlah Young Interfaith Peacemaker National Conference yang diikuti hampir 50 orang dari berbagai kota. Conference yang diadakan di Magelang ini mengambil tema “Loving God – Loving Others, Let’s Do Something About It” dengan mengambil landasan diskusi berdasar dokumen “A Common Word Between You and Us”. Di akhir National Conference inilah, nama YPCI menjadi disempurnakan menjadi Young Interfaith  Peacemaker Community (YIPC) Indonesia dengan 3 cabang YIPC Medan, YIPC Joglosemar dan YIPC Jawa Timur.

 

Tujuan berdirinya YIPC Indonesia[8]

Menurut Andreas, pendiri YIPC, bahwa agama sering kali dianggap menjadi biang kerok atas terjadinya konflik-konflik, memang tidak dapat dipungkiri saat ini banyak konflik yang berujung kekerasan terjadi di Indonesia mengandung unsur agama atau setidaknya agama ditarik ke dalamnya. Namun seyogianya agama-agama dalam ajarannya tegas menyatakan tentang ajaran-ajaran kebaikan, tidak ada agama yang menganjurkan penganutnya untuk berbuat jahat kepada orang lain. Oleh karena itu wajah agama seakan-akan ambigu dalam keeksistensinya dalam kondisi nyata yang saat ini terjadi.

Salah satu masalah yang sangat mendasar, menurut Andreas, adalah prasangka yang ada dalam benak kita akan orang lain yang tersimpan tanpa pernah diklarifikasi. Prasangka-prasangka tentu saja memberikan penilaian yang kurang baiak akan orang yang berbeda baik suku, kelompok, golongan, apalagi agama. Contohnya, seorang Kristen yang mempunyai prasangka akan agama Islam yang kurang baik seperti label teroris, dan sebagainya tentulah tidak dapat leluasa berjalan bersama dengan seorang muslim karena label yang sudah ada di pikirannya, demikian sebaliknya. Sehingga perlu dirasa menciptakan sebuah bentuk komunitas yang di dalamnya perbedaan itu dapat didialogkan dengan baik.

Sehingga YIPC dibentuk untuk menjadi wadah dimana di dalamnya mahasiswa-mahasiswa yang berbeda keyakinan akan saling berdialog dengan baik dan sedikit demi sedikit akan menghilangkan prasangka yang ada dalam benaknya masing-masing. Tidak hanya hal ini, Andreas menegaskan bahwa ketika berdialog dengan agama lain secara otomatis juga kita sedang belajar kembali dengan lebih baik akan agama kita sendiri.

 

Kegiatan-kegiatan YIPC

Untuk mewujudkan cita-cita perwujudan perdamaian yang menjadi tujuan dari YIPC ini maka diadakan kegiatan-kegiatan seperti:

  1. Camp Damai (Peace Camp)

Peace Camp adalah sebuah camp yang dirancang dengan bahan-bahan perdamian, dimana semua peserta dan fasilitator beraktivitas bersama selama 3 hari 2 malam. Dalam Peace Camp akan dibahas nilai-nilai perdamian yang diramu dalam tema-tema khusus, seperti: (1)Mengenal Diri, (2) Mengatasi Prasangka, (3) Indahnya Keberagaman, (4) Eksklusivisme, (5) mengenal Islam dan Kristen, (6) Resolusi Konflik, (7) Mengatasi Konflik: Tanpa Kekerasan, (8) penyelesaian konflik dengan meminta maaf dan memberi maaf, dan (9) bagaimana melakukan dialog, serta (10) Out bond. Dalam setiap sesi dipimpin seorang fasilitator yang tugasnya untuk memfasilitasi sesi, setiap sesi tidak dengan pemaparan oleh fasilitator tetapi dengan banyak permainan dan diskusi.

Peace Camp ini sudah dilakukan tiga kali di Jogjakarta, du akli di Trawas Jawa Timur, dua kali di Medan, dan sekali di Bandung. Menurut Andreas, dicangankan disetiap kota perwakilan yang sudah ada akan diadakan Peace Camp sekali dalm satu semester. Pelaksanaan Peace Camp ini akan ditindaklanjuti oleh semu anggota YIPC karena sudah menjadi komitmen bersama.

  1. National Conference

National Conference ditujukan bagi semua yang sudah pernah mengikuti peace camp atau kegiatan sejenisnya di seluruh Indonesia untuk berkumpul bersama dalam konfrence nasional dan sekligus mendiskusikan perkembangan aktivitas perdamaian masing-masing daerah. Kegiatan ini sudah diadakan sekali yakni pada bulan Juli 2013 di Magelang dengan tema: “Loving God – Loving Others, Let’s Do Something About It” dengan mengambil landasan diskusi berdasar dokumen “A Common Word Between You and Us”.

  1. Training Nilai-Nilai Perdamian

Training Nilai-Nilai Perdamian dilaksanakan dengan bekerjasama dengan Peace Generation yang berpusat di Bandung. Peace Generation mengadakan pelatihan 12 Nilai Perdamaian untuk pendidik dan penggiat perdamian di Indonesia. Training inilah yang pertama sekali diadakan untuk melatih mahasiswa dan terbentuklah YPCI. Oleh karena secara khusus peltihan ini dirancang untuk melatih setiap orang dan mengaplikasikan kepada anak didik (SD dan SMP), pelatihan ini akhirnya dimodifikasi dengan cara lain agar cocok untuk mahasiswa dan dilaksanakan saat Peace Camp.

  1. Dialog Reguler

Dialog Reguler ini adalah dialog Interen YPCI dimana dalam dialog ini akan membahas satu topik dari Al-Quran dan Alkitab (Taurat, Zabur dan Injil) yang bersesuaian. Tujuan dari dialog reguler ini agar setiap anggota komunitas ini dapat saling memahami ajaran-ajaran yang ada pada masing-masing agama, dalam hal ini Islam dan Kristen, serta mengambil langkah kongkrit bersama dari ajaran teks kitab suci tersebut. Dialog ini diadakan sekali dalam sebulan.

  1. Dialog Teologis

Dialog Teologis yang dimaksud disini adalah berdialog tentang beberapa hal yang selama ini dianggap sedikit kurang dimengerti ataupun kurang tepat dari masing-masing anggota komunitas. Contohnya secara umum bisa saja umat Kristen menganggap Islam mengajarkan kekerasan akibat olah segelintir orang dalam aksi terorisme di Indonesia. Oleh karena itu dari pihak muslim akan mendialogkan tentang ajaran Islam dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab yang lainnya yang mengkonter akan hal tersebut sehingga prasangka-prasangaka yang buruk dapat dikikis. Demikian juga halnya dengan beberapa orang muslim juga mengatakan bahwa Kristen kafir karena berTuhan tiga atau mengklaim bahwa Injil sudah dipalsukan. Untuk itu dari pihak Kristen akan mendialogkan tentang hal tersebut sehingga prasangka buruk tentang itu bisa hilang. Jadi, tujuan dialog teologis ini adalah untuk merekatkan semua anggota komunitas dengan mendialogkan prasangka-prasangaka yang kurang tepat dari masing-maising anggota. Kegiatan ini juga dilakukan sekali dalam sebulan.

  1. Dialog dengan organisasi kemahasiswaan lainnya

YIPC menyadari bahwa gerakan damai ini tidaklah mungkin bisa terjadi jika hanya dilakukan dalam kelompok ini saja. Semua komunitas dan organisasi kemahasiswaan baik yang bersifat keagamaan maupun yang tidak haruslah mengetahui pentingnya perdamaian dan mengaplikasikan dalam inter dan antar organisasi. Oleh karena itu, YIPC berinisiatif untuk mengunjungi organ-organ lain dan memperkenalkan dan mengkampayekan damai kepada organ-organ tersebut. Harapannya juga supaya organ-organ yang dikunjungi dapat menjadi mitra dan bekerjasama dalam banyak kegiatan.

Saat ini YIPC juga sudah menjadi anggota Forum Jogja Peduli bersama 20 komunitas lainnya di Yogyakarta. Tahun lalu, YPCI sudah memulai dialog antar organisasi ini dengan Pemuda Ahmadiyah Yogyakarta. Tahun ini YPCI sudah merancangkan akan berdialog dengan IPNU, KAMMI, HTI, HMI, PMII, PMKRI, GMKI dan organ-organ lainnya.

  1. Kunjungan Rumah Ibadah (komunitas keagamaan)

Acara ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan pengenalan akan keberagamaan tersebut secara nyata bagi setiap anggota maupun simpatisan YIPC. YIPC Jogja sudah melakukan kunjungan ke Vihara Mendut, Klenteng Fuk Lian Miau, Gereja Ganjuran, Pura Jagatnathan, Balai Sapto Dharmo, Pesantren Waria, Ahmadiyah Yogyakarta.

  1. Perayaan Hari Raya Keagamaan

Setiap tahunnya YIPC akan mengadakan Natalan Bersama, Halal bi halal Idul Fitri, acara Idul Adha bersama, maupun mengunjungi acara keagamaan lainnya seperti perayaan Waisak di Mendut.

  1. Kampanye Damai dengan Rekreasi

Kegiatan ini dilaksanakan dengan reksreasi bersama internal YPCI ke suatu tempat rekreasi atau desa dan disana akan mengkampanyekan damai. Tujuannya adalah untuk mempeerat silaturahmi dan persaudaraan dalam internal komunitas serta juga menyebarkan nilai-nilai perdamian kepada masyarakat yang lebih luas.

  1. Seminar Damai

Dalam rangka penyebaran nilai-nilai damai yang lebih luas YIPC juga merencanakan mengadakan seminar damai. Menurut Andreas, tahun ini akan mengadakan seminar damai dengan tema Agama dan Kekerasan yang akan mengundang kelompok-kelompok yang lainnya dengan pemateri dari Askorbi (Asosiasi korban bom indonesia) dan juga aktivis eks-Afganistan.

 

Respon Anggota YIPC

Para mahasiswa yang ikut serta dalam komunitas ini berasal dari displin ilmu yang beragam, bahkan menurut Andreas, anggota YIPC sebahgian besar bukanlah berlatar belakang displin ilmu yang berhubungan dengan keagamaan seperti Teologi maupun Ushuluddin. Beragamnya latar belakang displin ilmu ini juga menjadi keunikan sendiri karena dialog yang dibangun dapat beragam dan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. Kendala di awal pembentukan adalah banyaknya anggota yang sudah memasuki semester akhir dan sudah sibuk dengan skripsi dan juga lulus dan bekerja ke luar kota, namun akhir-akhir ini minat dari mahasiswa baru juga sudah semakin besar. Mahasiswa baru tentu masih punya banyak waktu untuk belajar dan berkarya nantinya di kampus sebelum akhirnya lulus.

Sejak berdirinya sampai sekarang sudah 300 lebih mahasiswa yang dilatih dan aktif dalam diskusi dan dialog nilai-nilai perdamaian yang dilakukan YIPC. Dalam sebuah buletin yang diterbitkan YIPC tahun 2013, ada bebrapa testimoni menarik, seperti: Ruben Amadeo Listianto (Salah satu mahasiswa kristen dari sebuah Universitas Surabaya, progam studi profesi apoteker angkatan 2013) menyatakan:[9]

“Saya mengenal dan mulai bergabung dalam forum ini melalui acara “East Java Student Interfaith Peace Camp 213” dengan tema waktu itu “Building Peace Generation through Young Peacemaker”. Melalui kamp inilah, saya melihat bahwa agama bukanlah sebuah halangan untuk mencapai perdamaian, karena sebelumnya saya melihat begitu banyak perpecahan terjadi dengan mengatasnamakan agama, sehingga hal itu memunculkan rasa takut terhadap orang-orang yang ada disekitar saya. Tapi, setelah mengikuti acara kamp tersebut dan bergabung dalam forum YIPC, hal itupun membantu saya untuk lebih dapat menjelaskan kepada banyak orang bahwa bukanlah agama yang menjadi penyebab, namun adanya berbagai aspek lainnya di luar agama sebagai pemicu rusaknya kedamaian. Nah, dengan komunitas inipun, kita sama-sama belajar tentang bagaimana mencapai kedamaian tanpa menciderai suatu perbedaan agama, ras, suku maupun bahasa, karena kita adalah satu bangsa dan satu tanah air Indonesia, dan melihat bahwa kita diciptakan TUHAN dalam kesempurnaanNYA dan penuh kedamaian baik terhadap TUHAN, sesama manusia dan bahkan lingkungan kita.”

 

Dan juga oleh M. Ayyubi (mahaiswa IAIN Sunan Ampel) yang memberikan testimoni sebagai berikut:[10]

“Sejak kecil, aku belajar di sekolah islam (madrasah diniyah). Pada tahun 2003 aku memperdalam ilmu agama di sebuah pesantren selama 7 tahun. Waktu itu, jika aku bertatap muka dengan orang cina kristen aku selalu berbenak mereka adalah penghuni neraka Tuhan yang paling kejam. Karna mereka berdo’a kepada selain Tuhanku serta memakan babi dan memelihara anjing. Perlahan terjadi protes dalam diri bahwa jika aku adalah manusia paling baik, kenapa aku menyebarkan permusuhan kepada setiap orang yang berbeda keyakinan denganku. Untuk apa aku berdo’a kepada Tuhan agar mereka dimusnahkan dan disiksa sepedih-pedihnya. Semangat apologetik yang luar biasa tumbuh saat aku hadir dalam forum Young Interfaith Peacemaker. Merasakan betapa manusia sangat sempurna dengan segenap penghormatan dan penghargaan. Bertemu banyak perbedaan. Namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian. Sehingga kami seperti saudara yang telah lama hidup bersama. Aku memutuskan untuk tidak lagi mencela dan mengagungkan diri diatas mereka. Kini, aku mengerti siapa aku karna aku tau siapa mereka. Tetaplah jadi diriku dan tetaplah jadi dirimu sahabat-sahabatku di young interfaith community untuk saling menghormati. Menghargai dan menebar damai ke seluruh dunia. Aku mengira YPCI sama saja dengan forum kemahasiswaan lainnya. Ternyata aku salah. Setiap minggu, kami selalu mengadakan pertemuan. Tujuannya bukan untuk mencari jawaban kenapa kita berbeda. Tapi untuk mencari persaudaraan diatas perbedaan, sharing, dan saling membantu. Keyakinan kita tetaplah paling benar menurut kita masing-masing. Namun, menghormati dan menghargai perbedaan itu sangatlah penting. Agar tercipta perdamaian diatas segala perbedaan. Hidup adalah pencarian arti. Begitulah catatan terpenting sejauh pengalaman ini bernafas. Namun bagaimana aku mengerti jika aku tidak mengerti. Kadang untuk mengerti hitam kita harus mngerti putih. Bagaimana aku layak menjelaskan hitam jika aku tidak mengerti putih. Bagaimana kau mengerti diriku jika aku tidak mengerti dirimu. So, siapapun kamu mengertilah dirimu dengan mengerti mereka yang bukan dirimu. Lalu hormatilah karena persaudaraan dan damai jauh lebih indah dari permusuhan buta karena ketidaktahuan.”

 

Selain itu, Dila, Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga yang juga aktif dalam YIPC saat penulis tanyakan tentang tujuannya bergabung dengan YIPC menyatakan:

“Padamulanya saya sangat bingung untuk mengaplikasikan teori yang sudah ku pelajari secara khusus saat belajar akan realitas perbedaan yang ada di Indonesia, saat menemukan acara peace camp saya langsung tertarik dan ikut serta. Sejak itu, saya selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan YIPC. Saya sangat senang karena tujuan saya untuk belajar banyak tentang saudara-saudara yang lain, khususnya kristen menjadi kenyataaan dalam YIPC. Berdialog dan bertanya tentang agama lain juga ternyata sangat asik dan membuka cakrawala berpikir kita tentang banyak hal yang selama ini belum kita mengerti. Selain itu kita juga semakin belajar tentang agama sendiri juga.”

 

Selain itu, Andreas menceritakan bahwa setiap peace camp religional akan sering ditemukan testimoni peserta yang unik, seperti baru pertama kali ikut acara dengan peserta ada beragama lain, baru pertama kali tidur se kamar dengan teman yang berbeda agama, dan sebagainya. Testimoni-testimoni seperti ini adalah pengalaman yang berharga yang mungkin tidak akan peserta lupakan. Seyogianya dalam kehidupan kita suasana seperti peace camp ini dapat terjadi secara natural, namun banyaknya kasus konflik yang terjadi menunjukkan bahwa perwujudan perdamaian itu masih memerlukan stimulus yang disegaja (by disign).

 

 

 

Agama Menjadi Fokus

Dari data-data di atas, sekilas dapat digambarkan bahwa komunitas YIPC ini adalah komunitas lintas iman yang mencoba mempelajari dan menularkan nilai-nilai perdamaian yang sarat akan kandungan keagamaan itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan didasarkan akan kajian agama dan dialog agama. Bahkan dalam program peace camp ada sebuah tema khusus selain nilai-nilai perdamaian yang umum, yakni sebuah sesi tentang ‘mengenal Islam dan Kristen’. Menurut Andreas, ‘tema ini sengaja dibuat karena masih banyaknya prasangka akan agama itu sendiri, sehingga hal ini harus didialogkan agar saling mengklarifikasi, namun bukan ajang debat.’

Selain itu perayaan hari raya keagamaan dan mengunjungi rumah ibadah dan organisasi mahasiswa yang berbasis keagamaan juga menunjukkan keeksisan komunitas ini dalam isu keagamaan tersebut. Sepertinya ada usaha yang besar dari pendiri dan anggota untuk mengembalikan citra agama yang mungkin sudah ternoda oleh ulah sebahagian penganutnya. Secara khusus, banyak isu agama yang intoleransi terhadap perayaan keagamaan, seperti fatwa MUI tentang haram mengucapkan selamat natal bagi pemeluk agama Islam, justru sepertinya disikapi dengan berbeda oleh komunitas ini.

Pernyataan Hans Kung yang menyatkan bahwa: ‘tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama-agama, dan tidak ada perdamaian agama-agama tanpa dialog antar agama’[11] sepertinya dapat dikatakan sebagai semangat dari komunitas Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) ini.[12] YIPC dalam kerinduaan akan terwujudnya perdamaian Indonesia dan dunia tentunya memulai aksinya dengan kegiatan-kegiatan lintas agama dan sepertinya juga mendisain program-program yang bertujuan terjadinya dialog antar agama baik dengan sengaja maupun dengan konsep yang lebih terbuka. Adanya diskusi rutin yang membahas isu-isu kitab suci yang bersesuain juga menjadi alasan yang tepat menempatkan komunitas ini sebagai komunitas yang mengedepankan dialog antar agama.

 

Mewujudkan Perdamaian Melalui Dialog Antar Agama sejak Mahasiswa

Perdamaian berasal dari kata dasar damai (dalam bahasa inggris peace, dalam bahasa Ibrani Shalom, dan dalam bahasa arab disebut dengan Salam) yang artinya rukun, tentram dalam jiwa maupun batin.[13] Perdamaian berarti merasakan harmoni dan tiadanya permusuhan antar sesama yang mengambarkan hubungan antar kelompok yang berbeda (suku, bangsa, ras dan agama ataupun kelompok) dengan tetap menjungjung tinggi sikap saling menghormati, keadilan dan saling mendukung dan membangun bersama. Perdamaian adalah hak mutlak yang diinginkan oleh setiap mahkluk hidup, Wahiduddin Khan menyatakan bahwa perdamaian selalu menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia, apabila perdamaian itu terwujud maka ia akan hidup dan sebaliknya apabila perdamaian itu absen maka matilah manusia itu.[14] Oleh karena itu terlihat jelas bahwa begitu pentingnyalah perdamaian itu bagi setiap individu teristimewa dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia.

Perdamaian ini seperti mempunyai tantangan yang cukup besar terlebih dalam masyarakat yang majemuk. Ketidaksiapan hidup dalam perbedaan menyebabkan sikap-sikap intoleransi yang dapat merusak kehidupan yang damai yang menjadi harapan semu orang tersebut. Menurut Amin Abdullah, sikap intoleran juga dipicu oleh pembelajaran keagamaan (formal maupun informal) yang lebih menitikberatkan pada pendekatan normatif yang berdimensikan ‘salah atau benar’ semata, bahkan pada dimensi eksoteris yang bersifat historis dan sosiologis sehingga menimbulkan ketegangan, baik secara internal maupun hubungan antar agama. Pendekatan semacam ini bahkan masih dominan digunakan sampai tingkat perguruan tinggi yang seharusnya lebih menekankan pendekatan historis dan sosial empiris-kritis sehingga agama dapat memberikan perangkat problem solving dan bukan justru menjadi part of the problem dalam konteks kemajemukan dan keberagamaan di Indonesia.[15]

Usaha perwujudan perdamaian akan terlihat baik ketika adanya ketebukaan setiap orang yang berbeda untuk live together dalam perbedaan. Dalam kehidupan bersama inilah akan tercipta dialog yang natural, dimana setiap orang mampu untuk hidup bersama dalam perbedaan. Hal ini bukan hanya sekedar kehidupan yang tidak saling menganggu (toleransi semu), namun di dalamnya ada usaha untuk saling mengenal satu sama lain. Untuk itulah dalam kondisi banyaknya tindakan intoleransi dialog perlu diberikan stimulus dengan kegiatan-kegiatan yang mempertemukan seperti yang YIPC lakukan dalam peace camp, dimana mereka ada waktu hidup bersama dan menjalin persahabatan dan mengikir prasangka, sehingga dialog dimungkinkan terjadi.

Oleh karena itu, menyetujui maksud dari pembentukan komunitas-komunitas perdamaian yang sesuai dengan tesis Hans Kung tentang perdamaian dunia dengan perdamaian agama dan dialog agama, maka sepertinya niatan pembentukan komunitas perdamaian sebagai wadah dialog dalam kehidupan mahasiswa (sebagai penerus pemimpin bangsa) patut diberikan apresiasi. Pemikiran sederhananya adalah ketika mahasiswa sejak mahasiswa sudah diperhadapkan akan realitas keindahan perbedaan maka saat akan menjadi pemimpin kelak (baik pemimpin bangsa, pendidik bangsa, maupun pemimpin keagamaan) dapat menempatkan diri dalam perbedaan tersebut. inilah awal dari terciptanya perdamaian tersebut.

Mahasiswa saat ini memang memegang peran penting perubahan bangsa sepuluh sampai dua puluh tahun ke depannya. Oleh karena itu pembentukan karakter mahasiswa yang peka dan sadar akan pentingnya perwujudan perdamaian tersebut sepertinya sangat mutlak diperlukan dewasa ini. Sehingga peranan komunitas seperti YIPC ini sangat diperlukan menurut hemat penulis bagi bangsa ini.

 

 

 

 

Penutup: Sebuah refleksi dari YIPC

Melihat tujuan mulia yang diemban oleh YIPC akan perwujudan perdamaian secara khusus perdamaian agama-agama dalam kehidupan mahasiswa dapat dikatakan sebagai gerakan keagamaan berbasis dialog lintas agama. Hal ini ditunjukkan dengan komunitas ini digerakkan dan disusun sedemikian rupa oleh sebuah visi yakni perwujudan perdamaian yang tidak statis namun juga dinamis, walaupun sebenarnya ketika membicarakan perdamaian tidak cukup hanya membicarakan tentang agama saja namun semua aspek. Namun apapun itu, setidaknya komunitas ini mau mengambil sebuah peran strategis walaupun harus diakui tidak mudah untuk dilaksanakan karena masih banyak masyarakat Indonesia saat ini sangat sensitif untuk mendialogkan keagamaan dan kehidupan dalam kemajemukan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Pustaka

Abdullah, Amin, Agama dan Pembentukan Kepribadian Bangda di Indonesia, 2010, akses dari http://aminabd.wordpress.com/

Ali, As’ad Said, Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa, cet.III, jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2010, hlm.viii

Echols, Jhon M. dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 1996

Halim, Abdul, Dialog Antar Umat Beragama, Telaah atas Pemikiran H.A. Mukti Ali), Tesis. Pascasarjaan UIN Sunan Kalijaga. 2000

Khan, Maulana Wahiduddin, The Ideology of Peace, New Delhi: Goodword Book, 2010

Kung, Hans Terj.Tim CRCR, Tidak Ada perdamian Dunia Tanpa Perdamian Agama-agama, diterjemkan dari: Global Responsibility: In Search of a New Ethic (p.71-75), Crossroad, New york 1991, dalam Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Presfektif Muslim, CRCS UGM.

TIM Penyusun BPS, Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia: Menurut Sensus 2010, Jakarta: Badan Pusat Statistik

Sumber lainnya:

Wawancara dengan pendiri YIPC yakni Andreas Jhonatan dan beberapa anggota YIPC.

Buletin Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia, Edisi 1/2013, hlm.3

http://www.menkokesra.go.id/content/di-indonesia-ada-13-466-pulau-bukan-17508-pulau

http://www.peace-generation.org/#!yipc/cun

http://www.yipci.org

 

[1] Menurut data hasil survey dari tahun 2007 hingga 2010 oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi (Timnas PNR). Hasil survey tersebut telah dilaporkan ke United Nations Group of Expert on Geograpichal Names (UNGEGN). Selengkapnya lihat di http://www.menkokesra.go.id/content/di-indonesia-ada-13-466-pulau-bukan-17508-pulau

[2] TIM Penyusun BPS, Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia: Menurut Sensus 2010, Jakarta: Badan Pusat Statistik, hlm.5

[3] Ibid, hlm.6

[4] Abdul Halim, Dialog Antar Umat Beragama, Telaah atas Pemikiran H.A. Mukti Ali), Tesis. Pascasarjaan UIN Sunan Kalijaga. 2000, hlm. 4

[5] Dalam hal ini kita dapat melihat pengorbanan akan idiologi kelompok yang dilakukan para Founding Father yang beragama Islam yang legowo menghapuskan 7 kata dari sila pertama yang dirumuskan dalam piagam Jakarta.

[6] As’ad Said Ali, Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa, cet.III, jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2010, hlm.viii

[7] http://www.peace-generation.org/#!yipc/cun

[8] Berdasarkan wawancara dengan Andreas Jonathan, pendiri YIPC.

[9] Dikutip dari Buletin Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia, Edisi 1/2013, hlm.3

[10] Ibid, hlm.3

[11] Hans Kung, Terj.Tim CRCR, Tidak Ada perdamian Dunia Tanpa Perdamian Agama-agama, diterjemkan dari: Global Responsibility: In Search of a New Ethic (p.71-75), Crossroad, New york 1991, dalam Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Presfektif Muslim, CRCS UGM.

[12] Walaupun dalam wawancara dengan pendiri dan anggotanya pernyataan hans kung ini memang tidak disinggung sama sekali.

[13] Jhon M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 1996), hlm.422

[14] Maulana Wahiduddin Khan, The Ideology of Peace, (New Delhi: Goodword Book, 2010), hlm.12

[15] Amin Abdullah, Agama dan Pembentukan Kepribadian Bangda di Indonesia, 2010, akses dari http://aminabd.wordpress.com/

PESAN DAMAI NABI MUHAMMAD DAN ISA ALMASIH

PESAN DAMAI NABI MUHAMMAD DAN ISA ALMASIH[1]

Oleh: Riston Batuara[2]

Di bulan desember ini ada peristiwa unik yang hanya terulang setiap 33 tahun sekali, yakni perayaan Maulid

(Kelahiran) kedua tokoh ini tepat hanya berbeda satu hari. Tanggal 24 Desember 2015 adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad, sedangkan tanggal 25 Desember 2015 adalah perayaan Maulid Isa Almasih (Yesus Kristus) yang lebih dikenal dengan sebutan Natal.

Hampir semua dunia tahu tentang salah satu atau kedua tokoh ini. Minimal semua Muslim tentu tahu dan belajar tentang sosok Nabi Muhammad dan juga beberapa Nabi lainnya, seperti Nabi Isa. Di sisi lain semua Kristiani pasti diajarkan sejak kecil tentang sosok Yesus Kristus, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai Isa Almasih. Kedua tokoh ini memang menjadi poros utama, Nabi Muhammad bagi Islam dan Isa Almasih bagi Kristen.

Perayaan Maulid yang unik ini, tentunya tidak ada artinya sama sekali ketika setiap pemeluk agama hanya fokus kepada aktivitas perayaan mereka masing-masing. Keunikan ini akan berarti jika ada refleksi bersama kedua agama yang bersandar pada kedua tokoh ini. Refleski bersama ini tentu sangat bermanfaat karena kita menyadari bahwa hubungan kedua agama ini memang sagat mengalami dinamika dan pasang surut. Hubungan yang harmonis dan juga penuh konflik sangat sering mewarnai kedua penganut keagamaan ini. Namun dibanding dengan agama-agama lain di Indonesia maupun dunia, hubungan kedua agama ini memang lebih banyak diwarnai konflik.

Islam dan Kristen merupakan agama Abrahamistik dan mempunyai banyak kesamaan tentang beberapa tokoh dan nabi. Namun dilain pihak sejak perjumpaannya penganut kedua agama ini sudah teribat dalam banyak konflik. Salah satunya peristiwa lama yang terjadi pada abad ke 11 namun masih terus direproduksi dengan pesan-pesan kebencian adalah Perang Salib. Perang ini sering sekali diidentikkan dengan Perang antara Islam dan Kristen dan juga dikaitan dengan hubungan dunia barat dan timur tengah yang memang sering mengalami ketegangan. Barat sering di identikkan dengan Kristen dan Timur Tengah dengan Islam.

Di indonesia hubungan kedua agama ini juga mengalami pasang surut, tak jarang konflik antar kedua agama ini yang terjadi akibat hubungan sosial ekonomi dan penolakan pendirian rumah ibadah. Belum lama ini bangsa Indonesia dikejutkan dengan dua peristiwa di Tolikara dan Singkil. Tolikara yang berpenduduk mayoritas Kristiani ini terjadi pembakaran Mushola pada hari Raya Idul Fitri yang sangat penting bagi umat Islam. Di Singkil yang berpendusuk mayoritas Islam juga terjadi penutupan dan perusakan Gereja oleh sekelompok orang. Peristiwa ini memang bukannlah peristiwa pertama, sebelumnya sudah banyak peristiwa yang sudah terjadi dan bahkan ada beberapa yang masih belum mendapatkan solusi, seperti permasalahan pendirian rumah ibadah di beberapa tempat. Bahkan konflik-konflik ini sudah pernah terjadi dengan sangat masif dibeberapa daerah yang mengakibatkan kerusakan fisik dan moral serta menelan korban jiwa.

Konflik dan hubungan buruk itu sebenarnya sangat bertolak belakang dengan pesan damai yang dibawa oleh Yesus dan Muhammad. Dalam Injil banyak pesan damai yang disampaikan oleh Yesus, seperti mengasihi sesama seperti diri sendiri, mendoakan musuh, memberi kepada yang kekurangan, dan mebalas kejahatan dengan kebaikan. Demikian juga dalam berbagai Hadist Nabi Muhammad ditampilkan sebagai sosok seorang yang menolak kekerasan dan mengasihi orang yang melakukan kejahatan seperti memberi makan kepada seorang buta yang selalu mengejek beliau.

Alkitab dan Al-Qur’an sebagai Kitab suci inti kedua agama ini juga banyak berisikan tentang pesan-pesan perdamaian, walaupun ada beberapa ayat yang ditafsirkan oleh beberapa kelompok sebagai alasan melakukan kekerasan. Bahkan banyak ulama di dunia mengklaim bahwa inti ajaran kedua agama ini mengandung hal yang sama yakni dalam hal Mengasihi Allah dan Mengasihi sesama seperti diri sendiri. Salah satu dokumen penting para tokoh agama Islam dan Kristen dunia tentang inti ajaran ini adalah Dukumen A Common Word. Dokumen ini dituliskan oleh para ulama dan tokoh Islam dunia kepada para pemimpin dan tokoh agama Kristen, dan juga sudah mendapatkan respon yang positif dari banyak ulama dan tokoh Kriten. (selengkapnya tentang hal ini cek di www.acommonword.com)

Hari yang baik ini harapannya menjadi momentum yang baik bagi kedua agama besar ini untuk saling mengenal satu sama lain. Karena pengenalan akan persamaan dan perbedaan dapat memberi kita kemampuan untuk mencintai, seperti pepatah yang mengatakan ‘tak kenal maka tak sayang’. Nah yang menjadi PR para ulama, para pengiat perdamaian dan umat beragama semuanya adalah melakukan perjumpaan-perjumpaan seperti dalam bentuk dialog dan aksi bersama sehingga dapat saling mengenal satu sama lain.

Perjumpaan ini seharusnya dapat terjadi secara alami, namun terjadinya beberapa konflik yang membuat adanya sekat-sekat, memaksa kita semua untuk membuat semua desain pertemuan dalam dialog dan aksi bersama. Harapannya dalam dialog dan aksi bersama ini kita dapat mendiskusikan hal-hal yang menjadi persamaan dan perbedaan serta dapat menyelesaikan masalah-masalah kemanusian bersama. Akhirnya hendaknya kita hidup dalam perdamaian seperti yang diperintahkan Allah dan juga diteladankan oleh kedua tokoh besar ini.

 

[1] Ditulis dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad dan Natal yang berdekatan (hanya beda satu hari) sebagai refleksi perdamaian bagi kita semua.

[2] Penulis adalah Fasilitator di YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community) dan CPM (Campus Peace Movement), serta mahasiswa di Studi Agama dan Resolusi Konflik (SARK) UIN Sunan Kalijaga.

PENDIDIKAN PERDAMAIAN DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA

Pendahuluan: Pendidikan Agama dalam Kemajemukan Bangsa

Indonesia adalah Negara bangsa yang majemuk, ada lebih dari 300 suku bangsa dengan bahasa, budaya, dan ciri khas yang sangat berbeda satu sama lain. Indonesia juga diperkaya dengan agama-agama yang begitu banyak, ada enam agama yang diakui secara resmi dan banyak agama-agama lokal pada setiap suku dan daerah. Kondisi yang majemuk ini membuat Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara lainnya. Kondisi ini sebenarnya bisa menjadi suatu keuntungan untuk membangun bangsa ini, namun kondisi yang sangat majemuk ini juga sangat rentan akan konflik.

Pendidikan menjadi salah satu indikator penentu kualitas anak bangsa Indonesia. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajar anak untuk tahu atau sekedar mencetak kualitas pekerja, namun lebih mendidik anak yang berkarakter. Pendidikan Indonesia juga harus bisa di kontekstualkan agar sesuai dengan kondisi bangsa yang sangat plural ini. Karena ketika siswa hanya dididik untuk tahu tentang ilmu tanpa pemahaman aplikasi ilmu dalam masyarakat plural dampak membuat siswa tersebut terjebak dalam fanatisme ilmu, suku, agama dan lainnya.

Konflik yang sering terjadi di Indonesia sebagai Negara bangsa yang sangat majemuk adalah konflik berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). oleh karena itu, pendidikan di Indonesia seharusnya dapat menjadi sarana untuk memutuskan lingkaran konflik SARA dari lingkungan siswa sejak dini. Salah satu pelajaran yang bisa dikatakan bertanggungjawab besar dalam konteks ini adalah pendidikan agama. Pendidikan agama diharapkan mampu membangun sendi-sendi kebangsaan Negara yang berasaskan Pancasila ini. Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pertama dalam Pancasila yang harusnya menjadi dasar pembentukan Negara bangsa Indonesia ini. Oleh karena itu, tidak heran jika pendidikan agama yang baik dan kontekstual akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam kemajuan Negara bangsa ini.

Pendidikan agama merupakan sebuah proses tranformasi ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan siswa yang masih dalam kondisi mencari jati diri. Dalam konteks sosial-hostoris Indonesia, nilai keberagamaan yang penting untuk dikembangkan melalui pendidikan agama adalah nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Nilai-nilai toleransi akan dapat menjadikan kalangan remaja memiliki pemahaman dan perilaku religius yang berjalan paralel dengan kemampuan mereka untuk dapat hidup bersama orang lain yang berbeda etnik, budaya dan agama (to live together). Kemajemukan (pluralism) bangsa Indonesia juga harus menjadi pedoman dalam membingkai sebuah kehidupan yang mengedepankan semangat persahabatan dan persaudaraan demi tegaknya nilai-nilai demokrasi dan kebangsaan.[1]

Pendidikan agama memang memegang peranan penting yang akan menentukan sikap anak didik yang lebih dapat menghargai perbedaan dan berteman dengan bebas tanpa sekat atau sebaliknya akan menciptakan manusia-manusia yang memiliki fanatisme berlebihan yang melihat semua hal dengan satu cara pandang yang ekstrim yakni kebenaran yang mutlak dalam satu keyakinan tertentu. Kondisi pendidikan agama secara umum memang belum dapat menjadi contoh untuk pembentukan karakter yang pluralis namun juga tidak dapat dikatakan mengarahkan kepada sikap yang ektrimis. Walaupun memang kita tidak dapat menutup mata bahwa masih ada (banyak) para pendidik (guru ataupun tokoh agama) yang secara sadar atau tidak justru menanamkan bibit-bibit kebencian dalam diri anak didik.[2]

Sikap intoleran itu sering kali terdengar lebih nyaring dari kelompok agama Islam dan Kristen.[3] Sebenarnya, untuk kalangan siswa muslim pemahaman tentang kesadaran nilai-nilai pluralisme menjadi sangat penting untuk menumbuhkan sikap keberagaman yang lebih toleran dan memiliki sikap altruis terhadap segala perbedaan dalam lapisan masyarakat. Karena tidak dapat dipungkiri peranan Islam, sebagai agama yang terbesar kuantitasnya di Indonesia, sangat memegang peran yang besar dalam kemajuan Negara bangsa ini. Jika pendidikan agama islam gagal menumbuhkan sikap toleran dalam karakter anak didik bisa dipastikan beberapa tahun kedepan kondisi bangsa ini justru akan semakin parah.

Begitu pula hal dengan pendidikan agama Kristen seharusnya merefleksikan apa yang menjadi ajaran Yesus tentang nilai-nilai persahabatan dan kesalehan sosial bagi sesama. Dalam ajaran sosial Gereja, kebiasaan menjalin persahabatan dengan sesama, tanggung jawab secara etis,[4] tidak boleh sampai terbenam ditelan nafsu kekuasaan, dan sebisa mungkin menjauhkan prasangka menjadi sikap terbuka terhadap agama ataupun orang ”yang lain” (the other). Dalam konteks ini peran pendidikan agama Kristen memegang peran yang sangat penting untuk menimbulkan sikap kepedulian akan sekitar bukan justru terjebak dalam sindrom minoritas. Karena ketika terjebak dalam sindrom minoritas ini, usaha yang akan dilakukan seberapa baik atau besarpun hanya akan dalam rangka pembuktian diri yang identik dengan keegoisan dan sikap balas dendam semu.

Pentingnya peran pendidikan agama yang ini sangatlah vital dalam membangun karakter Negara bangsa kita yang majemuk ini. Meminjam bahasa Amin Abdullah bahwa pendidikan agama ini sebenarnya haruslah dipikirkan dengan baik layaknya ‘mobil kebakaran’ yang perlu diisi dan disiapkan dengan baik setiap saat walaupun belum terjadi kebakaran. Sehingga saat terjadi kebakaran mobil kebakaran tersebut telah siap sedia memerikan bantuan pemadaman api.[5]

Maka, paradigma pendidikan agama yang masih terbatas pada to know, to do dan to be, harus diarahkan kepada to live together.[6] Artinya, bahwa kemampuan anak didik untuk dapat hidup bersama orang lain yang berbeda etnis, budaya dan terutama agama, semestinya menjadi nilai yang melekat dalam tujuan sekolah dan lembaga agama yang melaksanakan aktifitas keagamaan yang berkaitan dengan sikap toleran atau nilai-nilai pluralisme. Tujuan pendidikan agama adalah untuk menjadikan anak didik memiliki pemahaman dan perilaku religius yang berjalan paralel dengan kemampuan mereka untuk dapat hidup bersama orang lain yang berbeda etnik, budaya dan agama.

 

Pendidikan Agama yang mengedepankan Perdamaian

Kecenderungan pendidikan agama dalam lingkungan sekolah hanya menekankan pada aspek pengukuran nilai watak yang terbingkai dalam pikiran dan otak setiap anak didik, sementara aspek batiniah yang mencakup kepekaan terhadap lingkungan, sikap empati, dan kepedulian sosial kurang diperhatikan. Akibatknya, nilai-nilai religi yang diajarkan ditempatkan di luar pribadinya, tidak terjamah, dan tidak terpersonifikasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Kecenderungan lain dari pelaksanaan pengajaran pendidikan agama adalah bahwa seorang anak dianggap telah berhasil mengikuti pendidikan agama bilamana telah menguasai sejumlah bahan pelajaran dan mampu menjawab soal-soal jawaban, bukan atas dasar sejauhmana anak telah menghayati nilai keagamaan yang terlefleksi dalam sikap dan menjelma para perilaku kehidupan, seperti disiplin dalam beribadah, berkepribadian luhur, sopan santun, saling menghormati dan menghargai, suka menolang, jujur, sabar, dan tidak apatis terhadap keyakinan agama lain.[7]

Menurut Amin Abdullah sikap intoleran juga dipicu oleh pelajaran agama yang lebih menitikberatkan pada pendekatan normatif yang berdimensikan ‘salah atau benar’ semata-mata, bahkan pada dimensi eksoteris yang bersifat historis dan sosiologis sehingga menimbulkan ketegangan, baik secara internal maupun hubungan antar agama. Pendekatan semacam ini bahkan masih dominan digunakan sampai tingkat perguruan tinggi yang seharusnya lebih menekankan pendekatan historis dan sosial empiris-kritis sehingga agama dapat memberikan perangkat problem solving dan bukan justru menjadi part of the problem dalam konteks kemajemukan dan keberagamaan di Indonesia.[8]

Pendidikan agama diharapkan menjadi wahana strategis untuk membentuk manusia berwawasan intelektual, bermoral, prestatif, dan berkepribadian luhur, sehingga pendidikan di masa depan merupakan momentum dalam membangun dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi kekuatan iman dan taqwa. Manusia dengan fungsinya sebagai mahluk sosial harus mampu mengembangkan nilai-nilai insani yang islami dalam kehidupan masyarakatnya. Nilai-nilai itu meliputi persaudaraan (ukhuwah islamiyah), perdamaian (islah), kasih sayang (rahmat), kebaikan (ihsan), toleransi (tasamuh), dan pema’af (afwan).[9]

Ketika nilai-nilai persaudaraan dan sikap live together ditanamkan dalam pendidikan agama di sekolah-sekolah dan instansi/lembaga keagamaan maka proses pemahaman makna pentingnya perdamaian akan secara langsung dapat diserap oleh anak didik. Perdamaian berasal dari bahasa inggris yakni peace, yang artinya damai, rukun, tentram dalam jiwa maupun batin.[10] Perdamaian berarti merasakan harmoni dan tiadanya permusuhan antar sesama yang mengambarkan hubungan antar kelompok yang berbeda (suku, bangsa, ras dan agama ataupun kelompok) dengan tetap menjungjung tinggi sikap saling menghormati, keadilan dan saling mendukung dan membangun bersama.

Perdamaian adalah hak mutlak yang diinginkan oleh setiap mahkluk hidup, Wahiduddin Khan menyatakan bahwa perdamaian selalu menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia, apabila perdamaian itu terwujud maka ia akan hidup dan sebaliknya apabila perdamaian itu absen maka matilah manusia itu.[11] Oleh karena itu terlihat jelas bahwa begitu pentingnyalah perdamaian itu bagi setiap individu teristimewa dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia.

Pendidikan agama di Indonesia sangat diharapkan dapat menjadi sarana yang sangat efektif dalam mendidik anak bangsa tentang pentingnya perdamaian. Ketika nilai-nilai perdamaian ini diajarkan dalam pendidikan agama sejak usia dini maka anggapan agama sebagai sebagai part of the conflict niscaya akan berganti menjadi sebagai problem solving. Pengajaran perdamaian dalam pendidikan agama tentulah tidak bertentangan dengan teks dan doktrin teologis agama tersebut, bukankah semua agama menyatakan dirinya sebagai pembawa damai. Islam secara tegas menyatakan dirinya sebagai rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh umat manusia dan seluruh alam). Yesus dalam Injil juga menegaskan pentingnya perdamaian ini, dengan tegas Ia mengatakan bahwa berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.[12] Bahkan dua ungkapan pembuka yakni kata salam yang berasal dari bahasa Arab dan shalom yang berasal dari bahasa Ibrani sama-sama berarti peace (damai).

 

Pendidikan Perdamaian sebagai ‘Mobil Kebakaran’

Tentu kita mengetahui bahwa petugas pemadam kebakaran akan selalu mempersiapkan kondisi mobil kebakaran yang baik setiap saat. Air dalam kondisi penuh, kondisi dan mesin mobil yang baik, bahan bakar mobil yang cukup dan peralatan yang lainnya selalu dicek setiap saat. Tidak ketinggalan juga kondisi petugas yang fit untuk melakukan tugas beratnya selalu menjadi prioritas. Dengan persiapan matang ini pemadam kebakaran dan mobil kebakarannya siap untuk melakukan tugas kapanpun terjadi kebakaran.

Sesuai ilustrasi pemadam kebakaran dan mobil kebakarannya, demikian jugalah Indonesia sebagai negara bangsa yang sangat majemuk dan rawan konflik memerlukan sebuah persiapan yang dapat digunakan sewaktu-waktu jika terjadi konflik. Diperlukan semacam ‘mobil kebakaran’ yang dengan sendirinya memberikan solusi (problem solving) ketika muncul suasana intoleran/konflik sehingga dapat diselesaikan dan terutama tidak berakhir dengan kekerasan baik fisik maupun fisikis. Menurut saya pendidikan agama yang mengedepankan pendidikan perdamaian sejak usia dini di Indonesia dapat menjadi salah satu alternatif ‘mobil kebakaran’ untuk konflik yang terjadi.

Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh hans kung yang menyatakan bahwa tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama, dan tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama.[13] Agama menjadi bagian yang sangat tidak terpisahkan dari perdamaian, sehingga pendidikan agama menjadi salah satu elemen penting terciptanya pendidikan perdamaian yang sesuai dengan negara bangsa Indonesia yang majemuk ini. Oleh karena itu, sangat diperlukan suatu kurikulum dan modul pendidikan agama yang mengarahkan kepada perdamaian.

Sebelum membahas cara untuk mengaplikasikan pendidikan perdamaian ini, sangat perlu memahami bahwa pendidikan perdamaian dalam pendidikan agama haruslah diberikan atau diajarkan kepada anak-anak didik sejak usia dini. Usia anak sekolah dasar adalah usia yang sangat potensial dalam pembentukan karakter mereka. Ketika nilai-nilai perdamaian ini disampaikan dengan baik pada usia dini ini, maka ini akan menjadi modal yang kuat bagi bangsa Indonesia dalam kemajemukannya. Jika saja pendidikan perdamaian ini diwujudkan tahun ini, maka niscayalah 20-30 tahun ke depan bangsa ini akan memiliki anak-anak bangsa yang berkarakter baik dan menjadi agen-agen perdamaian. Hal inilah yang saya maksudkan dengan anak bangsa yang mengecap pendidikan perdamaian yang akan menjadi ‘mobil-mobil kebakaran’ yang akan siap memadamkan panasnya konflik yang mungkin terjadi dalam kemajemukan bangsa kita.

Mewujudkan Pendidikan Perdamaian

Amin Abdullah menyatakan bahwa untuk memperbaiki social relation dan social fact yang relatif mengarah kepada prejudice, diskriminatif dan pengelompokan yang memarjinalkan, perlu dipikirkan sebuah cara dalam pendidikan sosial maupun pendidikan agama yang mengandung sikap rekonsiliatif, mediatif, konsensus, akomodatif, dan negosiatif. [14] Kelima sikap inilah yang menurut saya akan terwujud ketika pendidikan agama mengandung niali-nilai perdamaian. Karena di dalam nilai-nilai perdamain haruslah ada rekonsiliasi, rekonsiliasi memerlukan adanya mediasi yang menghasilakan persetujuan bersama yang dapat mengakomodasi setiap kelompok yang berbeda dan dalam rekonsiliasi dipastikan harus melewati negoisasi dan dialog. Ketika kelima hal ini bisa terwujud dalam pendidikan agama dan pendidikan perdamaian nicaya perubahan akan terjadi.

Harapan yang besar melalui pendidikan agama yang mengandung pendidikan perdamaian ini hanya akan menjadi teori dan harapan belaka jikalau semua aspek masyarakat indonesia tidak berjuang untuk melaksanakan. Ini adalah mimpi dan harapan yang jauh kedepan dan harus dimulai saat ini dengan segala kesulitan yang ada. Tidak dapat dipungkiri beberapa golongan masih beranggapan bahwa penafsiran tekstual terhadap teks kitab suci menjadi satu-satunya cara untuk perubahan dan cenderung memimpikan sejarah ribuan tahun lalu yang diklaim menjadi sejarah kejayaan agama akan kembali terwujud dengan menerapkan semua hal berbasis ajaran agama yang kaku.

Terlepas dari semua itu, optimisme akan harapan ini masih terus dirasakan oleh banyak orang yang dengan sadar memperjuangkan perdamaian baik di Indonesia maupun di dunia. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dengan baik agar harapan ini dapat terwujud. Rasa optimisme dan kemauan untuk melakukan harus kita tanamakan dalam diri kita (sebagai aktivis perdamaian, guru, pemuka agama, akademisi) dan kesadaran bahwa usaha ini adalah on going process yang kita harus lakukan karena kita bukan Tuhan pencipta yang dapat melakukan dengan sekejap (kun fa ya kun).

Beberapa hal yang menjadi cara dan elemen perubahan ini adalah:

  1. Kurikulum/modul pendidikan agama yang kontekstual

Kurikulum pendidikan agama yang kontekstual sangatlah diperlukan dalam mewujudkan perdamaian ini. Pendidikan agama memang harus diawali dengan pemahaman tentang dasar keimanan dalam agama tersebut namun harus diiringi dengan pengenalan the others agar anak didik dapat memahami bahwa nilai-nilai agama ini harusnya diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, pengenalan the others itu sangatlah penting.

Kurikulum pendidikan agama yang tidak hanya mengajarkan agama secara tekstual haruslah dipikirkan dengan baik agar tidak terjebak dalam karakter fanatisme berlebihan. Pendidikan agama, menurut hemat saya haruslah sesegera mungkin mengajarkan tentang perdamaian dan pengenalan the others. Kurikulum pendidikan agama harusnya dapat dikoneksikan kepada ilmu-ilmu yang lainnya. Menarik untuk di perhatikan juga perubahan IAIN menjadi UIN juga sebenarnya dalam rangka interkoneksi ilmu agama ini.[15] Walaupun tidak bisa dipungkiri sudah lamanya studi agama terpisah dari ilmu yang lain membuat wacana UIN ini mengalami banyak tentangan dari beberapa pemuka agama dan akademisi dibeberapa tempat.

Selain kurikulum yang baik diperlukan buku atau modul yang mendidik siswa akan pentingnya perdamaian itu perlu dipikirkan pihak terkait. Gagasan tentang ini bukan lagi dalam tataran wacana, beberapa lembaga LSM/NGO sudah memberikan kontribusi positif dalam pendidikan perdamaian ini. Salah satunya adalah NGO Peace Generation yang telah mengeluarkan modul training perdamaian kepada guru-guru dan aktivis perdamaian serta mahasiswa agar dapat diterapkan kepada anak didik di sekolah maupun di lembaga keagamaan. Buku modul ini diberinama 12 Nilai Perdamian yang di dalamnya ada 12 bab dan setiap bab mengandung satu nilai yang diajrkan secara beruntun.[16]

Ketika mendapatkan training 12 Nilai Perdamaian ini secara pribadi saya melihat modul ini bisa dipakai sebagai salah satu cara untuk mengajarkan perdamaian karena di dalam buku ini juga sarat dengan pendidikan agama. Saat ini memang mereka baru mempunyai 2 buku yakni buku edisi muslim dan buku edisi kristen. Menurut Erik (salah satu penulis buku) modul muslim dan kristen dibedakan agar dapat diterima dimasing-masing kelompok daripada menyatukannya relatif akan menimbulkan konflik.

Modul ini dikemas dengan banyaknya cerita yang berupa komik dan perminan/games. Setiap bab juga diawali dengan kata hikmah dari ayat kitab suci dan diakhiri dengan berdoa dan kata-kata bijak. 12 nilai yang dimaksud adalah (1) menerima diri, (2) mengatasi prasangka, (3) Perbedaan Etnis, (4) Perbedaan Agama, (5) Perbedaan Jenis Kelamin, (6) Perbedaan status ekonomi, (7) perbedaan kelompok atau geng, (8) keanekaragaman, (9) konflik, (10) menolak kekerasan, (11) mengakui kesalahan, dan (12) memberi maaf. Menurut saya, modul ini baik untuk diadopsi di Indonesia karena sudah mencakup kemajemukan di Indonesia dan dikaitkan dengan kepercayaan yang ada di Indonesia.

 

  1. Kualitas Pengajar (guru dan tokoh agama)

Kualitas pengajar pendidikan agama bukan hanya pengetahuan teks agama yang baik, namun meliputi karakter yang dapat menjadi teladan atau yang patut untuk ditiru sikapnya oleh anak didik. Oleh karena itu, pendidikan agama haruslah diajar oleh guru maupun tokoh agama yang karkaternya juga mewujudkan perdamaian. Hal ini sangat berkaitan dengan budaya bangsa kita yang menempatkan orang dewasa (orang tua) sebagai orang yang menjadi panutan pertama. Maka tak heran jika dikatakan bahwa kualitas murid akan terlihat dengan kualitas gurunya. Anak usia dini dalam hal ini sangat cepat untuk meniru perkataan, sikap atau karakter orang dewasa disekitar mereka.

Pelatihan-pelatihan kepada guru dan pemuka agama yang lebih kepada aspek sosial yang memapukan mereka mendidik anak didik yang mampu menerapkan nilai-nilai perdamaian sangatlah diperlukan. Pelatihan seperti training 12 nilai dasar perdamaian yang diadakan Peace Generation dan pelatihan yang sama dari lembaga yang lain perlu difasilitasi pemerintah dan khususnya depertemen pendidikan dan depertemn agama. Semakin banyak pengajar yang terampil dan memiliki nilai-nilai perdamaian dalam dirinya akan semakin sukseslah pendidikan perdamaian ini.

 

  1. Suasana lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga

Suasana kekeluargaan dalam lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga memegang peran yang sangat penting. Lingkungan ini adalah tempat anak didik dapat mengaplikasikan semua hal yang diterimanya. Saat suasana lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga ini sangat berbeda dari suasana ideal yang dipelajarinya bisa jadi akan menimbulkan sikap apatis dalam diri anak didik. Oleh karena itu orang tua dan guru perlu memiliki kesamaan presepsi dalam medidik anak. Orang tua memegang peranan penting untuk menciptakan suasana lingkungan yang baik pada anak. Lingkungan yang lebih majemuk juga dapat memberikan ruang belajar yang lebih baik bagi seorang anak. Intinya jangan pernah takut kalau anak kita berteman dan beraktivitas dengan teman-temannya yang berbeda suku, ras dan agama. Karena dalam suasana seperti inilah mereka akan mengaplikasikan sendiri nilai-nilai perdamaian tersebut.

 

Penutup

Mewujudkan pendidikan perdamaian dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia bukanlah menjadi hal yang mudah, namun walaupun demikian hal ini masihlah menjadi keniscayaan untuk terjadi. Ketika anak-anak bangsa kita memiliki kapasitas untuk bernegoisasi, berekonsiliasi, memilki kapasitas untuk sebagai mediator, mampu berkonsensus dengan baik dan memiliki rasa akomodatif yang baik maka nilai-nilai perdamaian ini akan sendirinya menggiring mereka kepada pengenalan diri sendiri yang lebih baik dan juga penghargaan dan pemberian apresiasi akan kehadiran orang lain yang berbeda secara agama, ras dan suku di sekitarnya.

Keterlibatan dan kesadaran semua pihak (pemerintah, pendidik, aktivis agma dan sosial, akademisi, dan masyarakat serta orang tua) akan pentingnya pendidikan perdamaian yang diberikan sejak usia sini kepada anak-anak bangsa ini menjadi kunci pokok. Perdamaian itu tidak akan terwujud jika bibit-bibit kebencian historis dan prasangka-prasangka terhadap golongan tertentu tidak diputus dari sejak usia dini. Besar harapan kita bersama melalui proses pendidikan perdamaian dalam pendidikan agama ini bisa terwujud dan kedepan kita akan menuai hasil yakni menghasilkan generasi-generasi yang penuh kedamaian dan saling mengenal serta menghargai ditengah-tegah perdedaan dan kemajemukan bangsa. Niscaya hal ini bisa menjadi ‘mobil kebakaran’ yang akan beroperasi/bergerak dengan sendirinya ketika ada konflik yang mengarah kepada kekerasan fisik maupun fisikis.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, “Agama dan (Dis) Integrasi Sosial: Tinjauan Materi dan Metodologi Pembelajaran Agama (Kalam dan Teologi) dalam Era Kemajemukan di Indonesia”, Makalah disampaikan dalam seminar “Panitia Ad Hoc BPMPR RI tentang Perubahan Kedua UUD 1945 dalam Perspektif Hukum, Sub Topik Agama dan Budaya, Mataram, 22 s/d 23 Maret 2003

_____________, Agama dan Pembentukan Kepribadian Bangda di Indonesia, 2010.

_____________, Integrated Prespectives dalam studi Agama: Aplikasi Teoritis dalam Studi Islam di UIN, ditulis saat masih menjabat sebagai rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Buseri, Kamrani, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah: Pemikiran Teoritis Praktis Kontemporer, Yogyakarta: UII Press, 2003

Echols, Jhon M, dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 1996

Kung, Hans, Tak Ada Perdamaian Dunia Tanpa Perdamaian Agama-agama, dalam Jalan Dialog Hans Kung dan Presfektif Muslim, Yogyakarta: Public Lecture Hans Kung CRCS UGM, 2010

Lincoln, Erik dan Irfan Amalee, Peace Generation: 12 Nilai Perdamaian, Bandung: Penerbit Pelagi Mizan, 2006

Lincoln, Erik dan Florence Farida, Peace Generation: 12 Nilai Perdamaian, edisi Kristen, Bandung: Penerbit satu-satu, 2011

Munir Mulkhan, Abdul, Paradigma Intelektual Muslim; Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah, Yogyakarta: Sippress, 1993

Takdir Ilahi, Mohammad, Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa: Paradigma Pembangunan dan Kemandirian Bangsa, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012

Tarigan, Jacobus, Religiositas, Agama, dan Gereja Katolik, Jakarta: Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia, 2007

Wahiduddin Khan, Maulana, The Ideology of Peace, New Delhi: Goodword Book, 2010

 

Sumber lain:

  1. Beberapa istilah dan kutipan disadur dari perkuliahan selama satu semester dalam mata kuliah filsafat agama dan resolusi konflik bersama Prof. Dr. Amin Abdullah
  2. Ayat kitab suci Alkitab disadur dari Alkitab terjemahan baru terbitan LAI tahun 1974

 

Foot Note:

[1] Mohammad Takdir Ilahi, Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa: Paradigma Pembangunan dan Kemandirian Bangsa, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 33.

[2] Setidaknya hal ini dialami sendiri oleh penulis yang beberapa tahun ini lebih terlibat dalam komunitas lintas agama. Di beberapa daerah (secara khusus sumatera utara daerah asal penulis), sering kali anak-anak kecil usia sd dan smp mengeluarkan kata-kata najis dan kafir kepada temannya yang berbeda suku dan terutama yang berbeda agama. Ketika beberapa remaja ini penulis tanyai secara pribadi ternyata bibit-bibit permusuhan ini justru ditanamkan dari rumah, sekolah ataupun aktivitas agama yang diikuti.

[3] Penulis memfokuskan uraian kepada Islam dan Kristen bukan mengabaikan agama lain, namun setidaknya representasi perdebatan dan konflik biasanya lahir dari dua agama ini dan juga keterbatasan penulis mendalami agama yang lainnya.

[4] Jacobus Tarigan, Religiositas, Agama, dan Gereja Katolik, (Jakarta: Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia, 2007), hlm. 109.

[5] Istilah ini penulis dapatkan dari perkuliahan filsafat agama dan resolusi konflik dari dosen pengampu yakni Prof. Dr. Amin Abdullah.

[6] M. Amin Abdullah, “Agama dan (Dis) Integrasi Sosial: Tinjauan Materi dan Metodologi Pembelajaran Agama (Kalam dan Teologi) dalam Era Kemajemukan di Indonesia”, Makalah disampaikan dalam seminar “Panitia Ad Hoc BPMPR RI tentang Perubahan Kedua UUD 1945 dalam Perspektif Hukum, Sub Topik Agama dan Budaya, Mataram, 22 s/d 23 Maret 2003, hlm. 9.

[7] Kamrani Buseri, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah: Pemikiran Teoritis Praktis Kontemporer, (Yogyakarta: UII Press, 2003), hlm. 27.

[8] Amin Abdullah, Agama dan Pembentukan Kepribadian Bangda di Indonesia, 2010.

[9] Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim; Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah, (Yogyakarta: Sippress, 1993), hlm. 30

[10] Jhon M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 1996), hlm.422

[11] Maulana Wahiduddin Khan, The Ideology of Peace, (New Delhi: Goodword Book, 2010), hlm.12

[12] Ayat ini dtulis dalam surat Injil Matius 5:9, secara khusus ayat ini adalah rangkaian sebuah pengajaran yang Yesus utarakan kepada umat saat itu yang sering dikenal dengan Kotbah di Bukit. Yesus memberikan sebuah perkataan yang sangat tegas bahwa orang yang membawa kedamaian diseklilingnya adalah anak-anak (sebutan untuk hubungan yang sangat dekat) Allah.

[13] Hans Kung, Tak Ada Perdamaian Dunia Tanpa Perdamaian Agama-agama, dalam Jalan Dialog Hans Kung dan Presfektif Muslim, (Yogyakarta: Public Lecture Hans Kung CRCS UGM, 2010), hlm. 25

[14] Dalam perkuliahan terakhir di konsentrasi SARK UIN suka, 31 desember 2012

[15] Amin Abdullah, Integrated Prespectives dalam studi Agama: Aplikasi Teoritis dalam Studi Islam di UIN, ditulis oleh beliau saat masih menjabat sebagai rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[16] Erik Lincoln dan Irfan Amalee, Peace Generation: 12 Nilai Perdamaian, (Bandung: Penerbit Pelagi Mizan, 2006) dan Erik Lincoln dan Florence Farida, Peace Generation: 12 Nilai Perdamaian, edisi Kristen, (Bandung: Penerbit satu-satu, 2011)